Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Cara memilih dan Menyimpan Semen

Cara memilih dan Menyimpan Semen
Semen adalah jenis material yang paling sering digunakan dalam pengerjaan proyek pembuatan gedung dan bangunan. Bersama dengan pasir, bahan ini dipakai untuk membuat pondasi, kolom, struktur dan kerangka, cor beton, dinding, lantai dan beberapa element yang lain. Bisa dikatakan, hampir semua komponen kecuali yang menggunakan kayu dan logam besi, selalu membutuhkan bahan ini.

Meski sekarang sudah banyak jenis dan merk semen yang beredar dan dijual di toko-toko bahan bangunan, namun ada beberapa orang yang tidak tahu bagaimana cara memilih semen yang baik sehingga element bangunan yang dibuat bisa bagus kualitasnya. Yang perlu dicek ketika sedang memilih semen adalah meski masih berada di dalam kemasan, namun jika kemasan itu ditekan dengan tangan tetap terasa lunak dan lembut. Jika rasanya keras, itu menandakan semen tersebut sudah terlalu lama disimpan sehingga kondisinya sudah tidak bagus lagi.

Kemudian ketika dikeluarkan, semen yang kualitasnya baik butirannya bisa terurai dan semua bagian tidak menyatu dan Nampak lembut seperti butiran debu. Tapi jika semen tersebut sudah menggumpal dan telihat kasar, itu berarti punya kualitas yang jelek. Apalagi jika gumpalan itu berbentuk seperti pasir atau kerikil kecil, jangan dipilih.

Selain harus tahu cara memilih, menyimpan semen itu juga ada metodenya tersendiri. Karena jika dilakukan dengan sembarangan bisa membuat semen menjadi rusak, mudah mengeras dan akhirnya tidak bisa digunakan. Pertama adalah semen harus disimpan dalam ruang tertutup atau minimal terlindung dari sinar matahari dan hujan. Selain itu permukaan lantainya harus datar dan rata serta bukan berupa tana

Sebelum dipakai sebagai tempat untuk meletakan semen, beri media misalnya kayu yang dibuat menjadi landasan. Jadi semen tidak langsung diletakan pada lantai. Tujuannya adalah jika terjadi penguapan air atau pengembunan di dalam tanah atau bawah lantai, tidak mengenai semen. Jadi semen tersebut tidak rusak dan mengeras.

Jika jumlah semennya cukup banyak, kemasannya bisa disusun dengan konsep seperti ketika membuat susunan batu batu bata. Jadi saling berjajar namun pada bagian atasnya diletakan dalam posisi yang saling menyilang. Ini untuk menghindari agar susunan kemasan tidak bisa jatuh dan tumpah.

Hanya sama dalam penataan tersebut, jika batu bata bisa dibuat secara menyatu namun untuk semen sebaiknya setiap satu susunan ditata secara terpisah-pisah. Tujuannya adalah agar dapat tercipta ruang atau celah untuk pergerakan udara. Jika disusun secara rapat, semen yang berada di bagian tengah dan dalam bisa cepat rusak, menggumpal atau membatu sebab kondisinya agak pengap.

Kemudian jika ada yang akan digunakan, harus diambil dari stok yang pertama masuk. Jadi bukan yang berada di bagian paling atas. Meski agak merepotkan tapi sistem ini membuat semen yang lama bisa segera digunakan sebelum terjadi penggumpalan.

Ruang yang digunakan untuk menyimpan semen, meski hanya berupa gudang tapi harus selalu dibersihkan dan diusahakan kondisinya selalu kering serta tidak lembab. Gudang yang lembab bisa membuat semen jadi mengeras dan membatu lebih cepat. Demikian pula jika sirkulasi udara yang ada tidak berjalan normal dan gudang menjadi pengap, hal ini bisa menimbulkan masalah yang sama.

Kemudian jika keadaan memaksa dan semen tidak bisa disimpan di dalam ruang atau gudang, sebaiknya tempat untuk meletakannya harus berada di tempat yang teduh dan tidak bisa terkena pancaran sinar matahari.

Jika belum digunakan tutup susunan kemasan semen dengan kain terpal untuk memberi perlindungan yang lebih maksimal. Adapun teknik penyusunan dan penataannya juga sama dengan semen yang ada di dalam gudang.

Sumber gambar : http://www.bizrice.com


 

Artikel Lainnya :