Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Mengenal Teknologi Pembuatan Bambu Laminasi

Mengenal Teknologi Pembuatan Bambu Laminasi
Bambu adalah jenis material yang bisa dijadikan sebagai pengganti kayu. Namun sayang sekali bentuk bambu yang berongga membuat bahan ini tidak bisa menjalankan fungsinya secara lebih maksimal. Jika membutuhkan komponen yang bentuknya kecil saja, bambu masih bisa menjadi andalan. Masalah akan muncul jika komponen tersebut adalah berbentuk papan yang lebar dan agak luas. Meski bisa dibuat susunan, namun kekuatannya tidak begitu kuat bila dibandung kayu.

Padahal dari sisi yang lain, persediaan kayu sekarang ini makin menipis dan terus berkurang dari waktu ke waktu. Karena jumlah pemakaiannya jauh lebih tinggi dari jumlah stok yang tersedia. Jika kondisi ini terus dibiarkan terus tentu pada suatu saat akan memunculkan suatu masalah.

Menghadapi problem seperti ini, telah membuat beberapa pihak untuk melakukan inovasi dan pada akhirnya terciptalah suatu bahan material untuk membuat bangunan yang namanya adalah bambu laminasi. Jika bambu selama ini bebentuk bundar dan didalamnya ada rongga atau lubang yang cukup besar, namun bambu laminasi punya bentuk yang sangat berbeda, yaitu seperti papan kayu bahkan ukurannya bisa dibuat lebih lebar lagi seperti papan triplek, plywood atau material lain yang sejenis.

Teknologi pembuatan bambu laminasi ini sebenarnya memang tidak begitu jauh beda dengan pembuatan material hasil produksi industri pabrik tersebut. Bambu yang masih utuh dibelah jadi banyak bagian lalu dihaluskan dengan cara dipukul menggunakan alat tertentu hingga berubah menjadi seperti serat. Selanjutnya serat ini dicampur dengan bahan lain seperti resin, lem serta beberapa macam perekat atau zat pengeras yang lain lalu dipress memakai mesin. Maka jadilah bambu laminasi yang bentuknya hampir sama dengan kayu atau triplek.

Bambu laminasi ini bila dibandingkan dengan kayu justru daya tekannya lebih bagus dan tidak mudah patah atau pecah seperti bahan triplek atau plywood. Hal ini dikarenakan pembuatannya menggunakan bambu yang masih utuh. Berbeda dengan material press lain yang menggunakan bahan dasar dari kayu, sebelum dijadikan lembaran harus dipotong-potong kecil dulu bahkan ada yang dijadikan bubur. Jadi kekuatannya tidak maksimal.

Bahkan setelah dilakukan suatu penelitian, bambu laminasi bisa juga digunakan sebagai bahan untuk membuat konstruksi seperti kayu meski bukan merupakan konstruksi utama. Namun saat ini sudah ada beberapa pihak yang melakukan percobaan dan penelitian lagi untuk menjadikan bambu laminasi menjadi lebih kuat lagi sehingga bisa dipakai sebagai struktur utama bangunan.

Karena penggunaannya belum begitu populer, teknologi bambu laminasi juga hanya diproduksi dalam jumlah yang terbatas saja sesuai dengan pesanan. Ukuran lebar, panjang dan ketebalannya juga bisa disesuaikan dengan keinginan pembeli atau pemesan. Karena memang masih banyak pembuat atau produsen yang menyediakan hanya berdasarkan order yang masuk saja, jadi belum dibuat secara massal.

Namun di negeri Cina yang juga mendapat julukan sebagai negara tirai bambu, pemakaian bahan ini sudah mulai mengalami peningkatan. Bahkan sudah ada yang tertarik untuk menjadikannya sebagai salah satu industri skala besar sehingga dapat diproduksi dalam jumlah yang banyak dan masal namun dalam waktu yang lebih singkat.

Saat ini harga bambu laminasi di Indonesia memang masih termasuk mahal sebab ongkos atau biaya produksinya juga tinggi. Di daerah Bali, harganya saat ini sekitar tigabelas juta untuk tiap satu meter kubik. Sedangkan di Yogyakarta bahkan lebih mahal yaitu limabelas juta. Bandingkan dengan kayu dari Kalimantan seperti bangkirai yang harganya hanya sekitar tujuh setengah atau delapan juta saja untuk satu meter kubik. Perbedaannya memang sangat jauh sekali.

Hanya saja jika teknologi dan inovasi untuk membuat bambu laminasi ini sudah berkembang dengan baik, diyakini harganya akan menurun banyak dan menjadi lebih murah dibanding bahan lain dari kayu. Salah satu penyebab utamanya yaitu persediaan bambu di Indonesia jumlahnya sangat banyak dan berlimpah.

Sumber gambar : http://www.ecvv.com
Artikel Lainnya :