Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Pekerjaan Upperstructure dan Substructure Pada Bangunan

Pekerjaan Upperstructure dan Substructure Pada Bangunan
Secara garis besar, pekerjaan stuktur bangunan bisa dibagi menjadi dua macam yaitu pekerjaan upperstructure dan substructure. Pekerjaan upperstructure lebih menekankan pada sistem dan siklus tugas yang tipikal dan dilakukan pada suatu ketinggian. Sedangkan pekerjaan substructure, adalah jenis pekerjaan yang dilakukan di sekitar area permukaan tanah. Pekerjaan ini biasanya lebih menekankan batasan terhadap tanah dengan air. Untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu persatu.

Pekerjaan upperstructure, oleh karena merupakan pekerjaan yang berada di atas jadi lebih sering teraplikasi pada bangunan bertingkat yang lebih tinggi. Misalnya saja bentuk podium dan tower. Selain itu pekerjaan ini juga termasuk jenis tipikal yang artinya adalah sering dilakukan secara berulang-ulang. Pekerjaan upperstructure juga harus memperhatikan sistem pergerakan termasuk bahan dan material yang digunakan.

Tujuannya yaitu agar bisa tercapai suatu sistem kerja yang lebih stabil dan cepat sehingga target waktu yang telah ditentukan bisa tercapai dengan baik. Untuk itu kebutuhan material, pemakaian bahan dan tenaga kerjanya harus selalu bisa disesuaikan. Karena dari sistem inilah dapat dibuat perkiraan dan target waktu pengerjaan yang tepat.

Beberapa jenis pekerjaan yang berkaitan dengan upperstructure misalnya pembuatan kolom, baja atap, shearwall atau dinding gerser, pelat lantai dan balok serta tangga. Semua jenis pekerjaan ini terdiri dari tiga macam pekerjaan utama struktur yaitu pekerjaan besi tulang, bekisting dan yang terakhir adalah pengecoran.

Semua ini proses kelancaran maupun keberhasilannya sangat ditentukan oleh beberapa jenis alat angkat dan angkut yang berat seperti pasanger haist dan tower crane. Karena itu sebelum proses pengerjaan dimulai, penyiapan dan pengecekan alat-alat tersebut mutlak harus dilakukan.

Selain itu pekerjaan upperstructure selalu dijalankan sesuai dengan zona atau bagian yang telah ditetapkan. Tujuan pembagian zona pekerjaan ini dikarenakan cakupannya yang begitu luas dan besar. Demikian pula dengan volumenya. Sehingga dengan adanya pembagian zona semua jenis pekerjaan bisa selesai tepat waktu.

Sedangkan untuk pekerjaan substructure, dimulai dengan pile cap atau penumpukan, tie bam atau mengikat balok, retaining wall atau penahan dinding serta pelat lantai. Karena ada gedung yang tinggi dan punya lantai dasar atau basement, lantai paling bawah ini diberi suatu kelengkapan yang namanya raft foundation dan dianggap sebagai massa beton atau mass concrete. Pekerjaan ini memerlukan metode khusus. Sedang area yang lain tetap dikerjakan memakai metode yang sudah sering diaplikasikan.

Sebelum pekerjaan dimulai, harus ada pengecekan arsitektur dan gambar struktur serta M/E. Tiga jenis pekerjaan ini harus dapat melakukan koordinasi dengan baik. Lalu untuk pengerjaan pile cap, tie beam serta pelat lantai dilakukan dengan sistem bertahap sesuai dengan zona kerja. Semua urutan kerja punya peran yang sama penting agar bisa menciptakan sistem yang efektif dan efisien. Karena itu harus diperhatikan juga perencanaan zona awal kerja, di mana maupun bagaimana perkerjaan tersebut dimulai tanpa melupakan jalur dan bagian yang dianggap kritis.

Untuk pengerjaan mass concrete biasanya dilakukan dalam dua tahap atau satu saja, disesuaikan dengan kondisinya. Yang terbaik memang hanya satu tahap saja. Tapi jika volume pekerjaannya besar serta ada pertimbangan yang lain, pengerjaan mass concrete ini bisa dilaksanakan dalam dua tahap bahkan ada yang lebih.

Jika pengerjaan pile cap atau tie beam dan pelat lantai sudah selesai, bisa langsung mengerjakan kolom serta dinding basement. Dua pekerjaan ini selalu mengikuti urutan pada zona lantai bawah yang sudah dicor. Kemudian disusul dengan pembuatan balok dan pelat basement yang berada di atasnya. Jika ada pile cap yang ukuran dimensinya terlalu besar, dapat digolongkan sebagai mass concrete dan diperlukan suatu metode tersendiri dalam pengerjaannya.

Sumber gambar : http://www.constructionweekonline.com

 

Artikel Lainnya :