Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Merawat Pagar Hidup

Merawat Pagar Hidup
Bentuk pagar tidak selalu harus menggunakan element keras seperti logam dan besi, tembok atau kayu. Ada jenis pagar lain yang tampilannya sangat menarik dan bisa memunculkan kesan alami pada bangunan, yaitu pagar tanaman atau pagar hidup.

Jika dulu pagar hidup lebih sering dipakai pada rumah yang menggunakan gaya tradisional, tapi saat ini rumah yang arsitekturnya bergaya modern pun juga banyak yang mengaplikasikannya. Oleh karena ilmu desain pagar hidup terus mengalami perkembangan, maka penggunaannya juga makin meluas tidak hanya terbatas pada model arsitektur tertentu saja.

Namun berbeda dengan jenis pagar yang lain, merawat pagar hidup memang dibutuhkan suatu ketelatenan tersendiri. Karena sesuai dengan namanya, pagar hidup ini selalu tumbuh dan terus berkembang sehingga bentuknya juga bisa sering mengalami perubahan. Sedang yang pagar lain, karena merupakan benda mati maka perubahan bentuk tidak akan pernah terjadi.

Ukuran pagar tertinggi yang paling baik adalah satu setengah meter. Jika ukurannya terlalu tinggi bisa membuat tampilan rumah tidak terlihat dari luar sehingga dapat mengurangi nilai estetika pada bangunan. Sedangkan lebarnya sekitar tigapuluh sampai limapuluh sentimeter. Lalu untuk panjangnya tinggal disesuaikan dengan ukuran batas kepemilikan lahan.

Perawatan utama yang harus sering dikerjakan pada pagar hidup adalah melakukan pemotongan agar ukuran tinggi dan lebarnya tidak melebihi batas maksimal. Jika pagar hidup tersebut berupa tanaman sejenis pangkat maupun tanaman lain berdaun rimbun yang tidak menghasilkan bunga, maka pemotongan tinggal dilakukan di bagian depan, belakang dan atas sehingga arah tumbuh ranting bisa menjadi rapi.

Ada beberapa orang yang tertarik membentuk garis pada bagian atas dan bidang datar di bagian yang ada di belakang dan depan. Namun ada pula yang lebih senang melakukan ekplorasi yaitu membentuk tampilan tertentu pada tanaman yang dijadikan pagar tersebut. Penggunaan konsep ini membutuhkan tingkat kedisiplinan yang lebih tinggi agar bentuk tanaman tidak akan rusak atau berubah karena daun dan ranting yang terus tumbuh. Jadi pemotongan harus semakin rajin dilakukan.

Kemudian untuk pagar yang menggunakan tanaman bunga, teknik perapiannya agak berbeda. Sebab harus menyesuaikan dengan arah tumbuhnya tangkai bunga yang sedang dan akan mekar. Jadi jika ada bagian yang harus dipotong, caranya tidak semudah seperti pada pagar hidup yang jenis tanamannya hanya berupa daun rimbun. Nuansa seni dan keindahan harus bisa ditonjolkan.

Untuk perawatan tanamannya, tidak berbeda dengan jenis tanaman hias yang lain. Misalnya saja setiap harus disiram minimal dua kali sehari pagi dan sore atau disesuaikan dengan cuaca yang sedang berlangsung dan jenis tanaman yang diaplikasikan. Jika tanaman tersebut tidak butuh air yang begitu banyak, maka penyiraman cukup dilakukan satu hari sekali saja. Waktu paling baik untuk melakukan penyiraman adalah sore hari karena air bisa masuk ke dalam tanah dan proses penguapan bisa diminimalkan.

Demikian pula dengan pemakaian pupuk untuk menyuburkan tananam, bisa disesuaikan pula dengan kebutuhan. Namun penggunaannya jangan disamakan dengan tanaman hias yang ditaruh di dalam pot karena tanaman yang diletakan secara langsung di dalam permukaan tanah butuh pupuk penyubur yang lebih banyak.

Bagi yang merasa kesulitan jika harus selalu mengatur dan membentuk tampilan tanaman karena tidak punya keahlian yang cukup atau waktu yang tersedia terbatas, pagar hidup bisa dipadukan dengan jenis pagar lain yaitu kayu atau logam. Cara ini akan membuat pengaturan tanaman lebih mudah dilakukan karena tinggal menyesuaikan bentuk dan ukuran pagar tersebut.

Jika hal ini masih dianggap sulit juga, alternatif terakhir adalah menggunakan pagar tembok lalu diberi jenis tanaman yang bisa merambat di dinding. Pagar hidup yang satu ini paling mudah perawatannya karena tidak perlu membentuk desain dan tampilan khusus.

Sumber gambar : http://www.flickr.com

 

Artikel Lainnya :