Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Menghindari Kebocoran Pada Plafon Gypsum

Menghindari Kebocoran Pada Plafon Gypsum
Gypsum sering dipakai untuk menutup bagian dinding, membuat ornament dan hiasan pada pintu dan jendela serta beberapa element yang lain. Namun yang paling sering menggunakan gypsum adalah plafon penutup atap yang ada di dalam ruang. Pemakaian gypsum ini bisa membuat ruang menjadi terlihat lebih bersih dan indah.

Hanya saja meski punya daya tahan yang lebih kuat dibanding dengan material lain yang sama-sama bisa dibuat untuk membuat gypsum, namun bahan ini punya kelemahan juga. Yaitu bisa terjadi kebocoran. Jika kebocoran ini sering terjadi dan tidak segera diperbaiki akan menjadikan papan gypsum berubah warna menjadi kehitaman dan jamur akan mudah muncul serta tumbuh di tempat itu.

Selain itu bagian sambungan bisa menjadi lemah sehingga jika didiamkan terus menerus akan memunculkan efek yang lain yaitu plafon gypsum bisa jatuh atau roboh. Meski bobotnya tidak begitu berat, namun jika mengenai tubuh penghuni rumah tentu akan menimbulkan masalah yang cukup serius. Namun untungnya ada beberapa teknik dan metode yang bisa diaplikasikan dengan cara yang sangat mudah untuk menghindari kebocoran pada plafon gypsum tersebut.

Pertama pastikan jika kosntruksi atap yang berada di atasnya tidak mengalami kebocoran juga. Jadi sebelum plafon dipasang tunggu beberapa saat hingga hujan turun atau dapat juga dilakukan pengecekan dengan cara menyiram atap dengan air yang disemprotkan melalui selang. Dari sini bisa diketahui apakah atap tersebut mengalami kebocoran atau tidak. Jika ada kebocoran dapat diperbaiki dengan cepat.

Cara yang kedua adalah menggunakan gypsum dari jenis waterproof atau water resistance. Jenis gypsum ini mengandung lapisan pelindung sehingga air tidak bisa menembus ke bagian dalam. Harganya memang lebih mahal bahkan selisihnya cukup tinggi dibanding dengan gysum biasa. Agar tidak terlalu boros penggunaannya cukup diaplikasikan pada ruang dan tempat yang tingkat resiko terjadinya kebocoran atap dan dinding lebih tinggi. Misalnya kamar mandi atau toilet dan sebagainya.

Bila struktur dan konstruksi atap memakai plat beton, maka pekerjaan waterproofing tidak usah dilakukan lebih dulu. Untuk mengetahui apakah bagian atap tersebut ada yang bocor atau tidak, caranya tinggal menuangkan air di lantai atap tersebut dengan jumlah yang cukup banyak lalu ditunggu sekitar satu atau dua hari. Jika penyusutan yang terjadi tidak begitu banyak, ada dua kemungkinan yaitu atap mengalami kebocoran namun tingkatannya tidak begitu parah atau air tersebut berkurang karena ada yang menguap.

Tapi bila air yang ada di lantai atap itu mengalami penyusutan dalam jumlah yang cukup banyak, perlu dilakukan pengecekan bagian mana saja yang terjadi kebocoran kemudian ditutup dengan adonan semen dan pasir dan ditunggu hingga kering lalu diadakan pengecekan lagi dengan cara yang sama hingga kondisi atap benar-benar aman dan tidak ada lubang yang bisa membuat air masuk dan merembes ke dalam plafon.

Untuk atap yang menggunakan kerangka dan konstruksi dari kayu serta penutupnya memakai atap dari genteng, agar tidak terjadi kebocoran bisa dilengkapi dengan pelindung tambahan yang biasanya berupa plastik yang tebal atau triplek. Jika terjadi kebocoran lapisan pelindung ini bisa menahan air agar tidak mengenai plafon gypsum. Dapat pula diberi diberi media perlindungan lain yaitu memakai cat jenis minyak. Cat ini juga punya sifat anti air.

Yang paling penting adalah kita harus dapat menciptakan sistem yang baik agar atap tidak dapat mengalami kebocoran. Karena kebocoran yang terjadi pada plafon gypsum biasanya bersumber dari kebocoran yang terjadi pada atap dan airnya mengenai plafon tersebut.

Sumber gambar : http://www.plumbingandconstruction.com

 

Artikel Lainnya :