Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Mengenal Jenis Agregat

Mengenal Jenis Agregat
Agegrat adalah bahan untuk membuat beton. Sebelum dipakai material ini biasanya ditunjukan lebih dulu dari pihak pemborong atau kenotraktor kepada pihak yang memberi proyek bangunan atau konsultan bangunan. Tujuannya adalah untuk membuktikan bila agegrat yang dipakai sudah sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan atau menjadi kesepakatan bersama.

Secara garis besar jenis agegrat itu dibagi menjadi dua yaitu agegrat halus dan kasar. Agegrat halus pada umumnya berupa pasir alam yang berasal dari pecahan batu yang mengalami proses desintegrasi secara natual dalam waktu yang sangat lama. Atau bisa juga berwujud batu yang dipecah lalu dihaluskan menggunakan mesin hingga bentuknya berubah menjadi pasir. Hasil pecahan batu ini dinamakan pasir buatan.

Agar bisa digunakan untuk membuat bangunan, pasir tersebut harus dapat memenuhi beberapa persyaratan. Yang pertama adalah butiran yang ada di dalam pasir harus tajam, keras dan punya sifat yang kekal. Maksud dari kekal di sini yaitu tidak dapat mengalami perubahan bentuk yang disebabkan oleh cuaca yang selalu berubah seperti sinar matahari, hujan, angin dan sebagainya.

Syarat kedua yaitu kandungan lumpurnya maksimal hanya lima persen saja. Bila diukur ternyata kandungannya lebih dari lima persen maka harus dibersihkan atau dicuci lebih dulu. Karena jika endapan ini tidak dihilangkan bisa mempengaruhi kwalitas bangunan yang dibuat khususnya di bagian cor beton dan konstruksi.

Syarat terakhir, pasir tersebut juga tidak boleh mengandung bahan organik lainnya. Pengecekan terhadap ada atau tidak adanya kandungan organik itu bisa dilakukan dengan sistem percobaan warna. Apabila tidak memenuhi syarat bisa dibersihkan menggunakan larutan kimia NaOH tiga persen dan dicuci dengan air. Bila metode ini dianggap tidak praktis dan memakan waktu terlalu lama lebih baik langsung diganti dengan pasir yang baru.

Sedangkan agegrat kasar bentuknya bisa berupa kerikil yang berasal dari batu ukuran besar dan terpecah-pecah dengan cara yang alami. Atau bisa pula batu besar tersebut dipecah dengan cara manual menggunakan tenaga manusia atau mesin dan punya ukurannya kurang lebih sekitar lima millimeter. Adapun syarat yang harus bisa dipenuhi agar dapat dipakai untuk membuat bangunan yaitu butirannya keras dan tidak punya lubang atau rongga dan pori-pori serta tidak mengalami perubahan ukuran dan bentuk karena cuaca seperti pada agegrat halus.

Demikian pula dengan kandungan yang ada di dalamnya seperti lumpur, kandungan organik dan lain-lainya juga punya aturan yang sama dengan agegrat halus seperti yang telah diterangkan di atas. Meski punya daya cengkeram yang kuat namun jika kandungan lumpur dan organiknya terlalu tinggi juga tetap membuat kwalitas bangunan menjadi turun. Karena itu material ini juga bisa dibersihkan dengan cara yang sama.

Selanjutnya bila ada kerikil atau batu kecil yang bentuknya pipih, sebenarnya kerikil seperti ini juga tidak boleh digunakan. Namun bila jumlahnya tidak banyak atau totalnya berada di bawah ukuran duapuluh persen, kondisi ini masih bisa ditoleransi. Tapi agar kekuatan bangunan bisa muncul secara maksimal harus diusahakan agar kerikil yang pipih atau datar itu dihilangkan.

Selain itu kedua jenis agegrat tersebut bila dicampur dengan material lain yaitu semen, harus bisa menyatu. Sehingga beton yang dibuat punya mutu yang bagus, padat dan kuat serta tidak ada bagian yang mudah terlepas.

Syarat dan standar mutu agegrat ini ditetapkan oleh lembaga PBI atau Peraturan Beton Bertulang Indonesia pada tahun 1971. Meski sudah dibuat dalam jangka waktu yang sangat lama namun hingga saat ini syarat dan standar mutu tersebut masih menjadi acuan untuk membuat bangunan baru di Indonesia.

Sumber gambar : http://www.clark-aggregates.co.uk

 

Artikel Lainnya :