Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Memasang Ubin Pada Dinding

Memasang Ubin Pada Dinding
Selain ditutup dengan lapisan aci atau adonan semen dan pasir, banyak orang yang tertarik untuk menutup dinding memakai ubin. Ada yang ditutup secara keseluruhan tapi ada yang cuma bagian bawah saja. Semua pasti punya alasan dan argument sendiri-sendiri. Namun yang jelas, dinding yang ditutup dengan ubin entah itu keramik atau bahan lain seperti granit, marmer dan lainnya memang punya satu kelebihan yaitu warnanya tidak mudah pudar sehingga cukup sekali pasang saja untuk selamanya. Kelebihan lainnya, dinding yang ditutup dengan ubin tidak mudah kotor dan pekerjaan pembersihan juga gampang dilakukan.

Hanya saja yang perlu diketahui, memasang ubin pada dinding secara teknik agak berbeda jika dibanding dengan proses pemasangan ubin pada lantai. Sistem dan caranya sedikit lebih sulit dan rumit. Hal ini dikarenakan bidang pada dinding bentuknya vertikal, sedang bidang lantai punya permukaan yang datar atau horizontal. Perhitungannya harus lebih cermat karena jika dilakukan dengan sembarangan, ubin tidak bisa melekat dan jatuh.

Adapun caranya bisa memilih dua sistem yang ada yaitu dari bawah atau dari atas. Jika dimulai dari atas, pertama rendam dalam air lebih dulu ubin yang akan dipasang. Tujuannya agar pori-pori ubin yang ada di permukaan bawah bisa menyerap adukan semen dan pasir. Jika penyerapan tidak sempurnya bisa menimbulkan rongga kosong yang menyebabkan ubin mudah terlepas jika sudah kering.

Selanjutnya adonan semen pasir ditempelkan pada dinding dan biarkan beberapa saat agar tidak terlalu basah. Jika terlalu basah ubin tidak dapat melekat erat dan mudah jatuh. Oleh karena itu adonan ini sebaiknya dibuat tidak begitu encer sehingga lebih mudah merekat pada dinding. Dan yang tidak boleh dilupakan, sebelum di tempel dengan adonan dinding harus disiram lebih dulu dengan air.

Bila adonan sudah mulai mengering, proses penempelan bisa segera dilakukan. Meski ubin telah direndam dalam air, namun sebelum ditempel atau dipasang ubin itu harus tetap dalam kondisi yang basah. Setelah itu permukaan bawah ini diberi adonan juga namun tidak boleh terlalu tebal. Jika terlalu tebal bisa membuat adonan itu melesat ke samping. Selain itu susunan ubin akan jadi sulit diratakan.

Setelah ubin diletakan pada posisi yang tepat, tekan menggunakan palu hingga permukannya pas dan sejajar dengan tali yang digunakan sebagai garis acuan. Palu yang dipakai untuk memukul jangan dari besi namun dari kayu atau karet. Palu besi terlalu keras bisa menyebabkan ubin jadi mudah pecah.

Untuk menghindari agar ubin yang sudah menempel tidak jatuh bagian pinggir yang berada di bawah bisa diberi dua paku di sebelah kiri dan kanan. Sedangkan bagian nat diberi suatu benda yang bentuknya tipis, misalnya kerta yang dilipat-lipat atau plastik ember bekas.

Bila semua dinding sudah terpasang dengan baik dan rapi, tunggu hingga adonan menjadi kering. Lalu lepas benda yang ada di dalam nat dan isi bagian ini dengan adonan semen khusus untuk mengisi celah nat.

Untuk proses pengerjaan yang dimulai dari bawah, secara garis besar caranya juga sama. Namun tidak dibutuhkan lagi paku untuk penyangga karena ubin yang ada di atasnya sudah ditahan oleh ubin yang ada di bawah. Namun celah nat harus tetap diisi dengan benda tipis. Proses pengerjaan dari bawah ini sangat cocok diaplikasikan jika ubin tersebut berupa batu alam.

Dan sebelum dipasang dindingnya bisa dibuatkan ceruk-ceruk kecil yang dibuat secara acak agar adonan semen pasir serta ubin bisa melekat lebih erat.

Sumber gambar : http://www.oinsacolombia.com

 

Artikel Lainnya :