Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Pagar berbentuk Naga di Bangunan Kelenteng

Pagar berbentuk Naga di Bangunan Kelenteng
Salah satu ciri utama pada bangunan yang menggunakan gaya Cina adalah selalu menggunakan warna dominan merah. Terutama sekali pada bangunan yang digunakan sebagai tempat untuk melakukan do'a atau ibadah yang sering disebut dengan Kelenteng. Ciri lainnya, kelenteng itu juga selalu punya hiasan atau ornament berbentuk naga yang ditempatkan di bagian paling atas bangunan atau puncak atap.

Meski menjadi ciri utama, namun penggunaan ornament naga yang ditempatkan pada bagian atas bangunan sebenarnya bukan merupakan hal yang mutlak. Karena tidak ada aturan baku yang mengatur penggunaan dan penempatan hiasan tersebut. Hiasan naga ini bisa ditempatkan di mana saja, sesuai dengan keinginan atau konsep dan model arsitektur yang diinginkan.

Contohnya adalah bangunan Kelenteng Kong Miao yang ada di komplek wisata Taman Mini Indonesia Indah atau TMII seperti yang terlihat pada gambar. Hiasan berupa bintang naga tidak ditempakan pada atap bangunan, namun diaplikasikan untuk membuat pagar yang ada di depan bangunan. Pagar berbentuk naga di Bangunan Kelenteng Kong Miao ini punya ukuran yang cukup besar.

Dan agak berbeda dengan yang ada di atas atap, hiasan patung naga yang berada di atas pagar ini memperlihatkan sebagian perutnya. Untuk hiasan naga yang ada di atas atap, penampakan perut tidak pernah dilakukan. Selain itu, aplikasi dan paduan warna yang dipakai tidak hanya memakai warna dominan hijau seperti pada umumnya hiasan naga yang lain.

Warna hijau pada bagian tubuh dikombinasi dengan putih merah yang digunakan untuk memberi warna pada bagian perut. Paduan yang lain yaitu kuning dan jingga juga diaplikasikan di bagian punggung. Di bagian punggung ini diberi hiasan lain semacam sirip yang punya bentuk seperti gerigi yang berjajar dari bagian kepala hingga ekor. Kombinasi kuning dan jingga inilah yang dipakai untuk memberi warna pada ornament tersebut.

Bagian kepala yang posisi mulutnya terbuka lebar, juga diberi warna lain yang selama ini jarang dipakai. Hiasan berupa sungut yang ada di bawah mulut dan menjuntai ke belakang, diberi warna biru. Sementara untuk giginya memakai warna putih terang.

Hiasan patung naga ini sebenarnya juga tidak menempel secara langsung pada pagar, namun ada di bagian belakang dalam jarak yang sangat dekat. Sehingga jika hanya diperhatikan sekilas saja, patung naga ini terlihat menyatu dengan pagar. Element pagar ini sendiri, punya bentuk yang tidak lurus namun bergelombang.

Dindingnya penuh dengan ornament gambar motif seperti sulur-sulung yang melengkung kearah dalam dan punya bentuk seperti lingkaran. Warna yang digunakan untuk membuat ornament ini tidak lagu memakai merah atau hijau, melainkan paduan biru dan putih.

Di depan pagar, ada hiasan lain berupa patung-patung dewa yang sedang mengenakan pakaian kebesaran mereka. Hiasan patung ini juga dibuat dengan konsep yang agak berbeda. Jika patung tradisional Cina selalu diberi warna yang mencolok, namun patung yang ada di tempat ini justru ditampilkan secara alamiah tanpa menggunakan warna sama sekali.

Patung yang terbuat dari adonan pasir dan semen ini tetap berwarna hitam dan punya tampilan seperti patung-patung yang ada di bangunan candi. Namun pada waktu-waktu tertentu patung ini diberi hiasan pita warna merah yang dikalungkan pada bagian leher.

Bangunan kelenteng yang ada di belakang pagar, dibuat dengan konsep seperti bangunan tempat ibadah umat Konghuchu yang lain. Tapi pada bagian samping bangunan utama, diberi bangunan tambahan yang bentuknya bundar dan terdiri dari beberapa lantai. Bangunan ini menggunakan warna dominant merah. Hiasan lampion yang dipasang di sebelah samping dinding luar mampu menambah kesan etnik Cina yang sangat kental dan khas.

Sumber gambar : http://travel.detik.com

 

Artikel Lainnya :