Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Gaya Arsitektur Keraton Sumenep

Gaya Arsitektur Keraton Sumenep
Sebenarnya meniru itu merupakan hal yang sangat wajar dan telah menjadi sifat yang sangat umum, termasuk dalam hal budaya. Bahkan ada seorang ahli filsafat yang mengatakan, apabila perbuatan meniru adalah bagian paling penting dalam perkembangan budaya di masyarakat. Misalnya saja ada satu kebudayaan. Karena meniru budaya dari daerah lain, budaya yang asli ini akan berakulturasi dengan budaya non pribumi sehingga menghasilkan suatu budaya baru yang lain.

Di Indonesia, penyatuan dua budaya asli dengan budaya dari luar seperti ini sudah sering terjadi, bahkan telah berlangsung sejak puluhan abad yang silam. Pernyatuan ini terjadi tidak hanya dalam satu bidang budaya saja, tapi beberapa bidang budaya sekaligus termasuk seni arsitektur untuk membuat suatu desain bangunan. Contoh yang paling nyata adalah arsitektur Keraton Sumenep yang ada di pulau Madura di provinsi Jawa Timur.

Pada jaman dulu, budaya Madura masih banyak terpengaruh oleh budaya Hindu dan Islam yang berasal dari Jawa. Namun setelah banyak imigran dari Cina yang masuk ke kepulauan nusantara termasuk pulau Madura, bangunan yang ada di pulau kecil ini juga terpangaruh oleh gaya-gaya Cina. Setelah bangsa Belanda masuk, muncul gaya arsitektur baru lagi, seperti yang terjadi pada bangunan Keraton Sumenep tersebut.

Seperti yang terlihat pada gambar, gapura yang ada Keraton Sumenep ini memadukan beberapa gaya sekaligus. Gaya Islam dimunculkan pada bagian yang paling atas atau puncak. Di bagian ini terdapat satu element yang bentuknya seperti kubah yang sering dijumpai di bangunan masjid. Tapi secara keseluruhan bentuk dinding atau fasad yang juga berfungsi sebagai pintu gerbang ini punya tampilan seperti tembok besar yang ada di negeri Cina.

Nuansa etnik Cina yang lain muncul dari bagian atap. Pada sisi yang ada di sebelah pinggir atau pojok, terdapat hiasan kecil yang melengkung kearah atas. Hiasan seperti ini lebih mudah kita temukan pada bangunan kelenteng yang sering dipakai untuk melakukan do'a bagi orang yang beragama Kong Hu Chu.

Pintu terbuka tanpa daun yang ada di bagian tengah, punya bentuk melengkung pada bagian atas. Sehingga terlihat sangat jelas jika pintu ini mengambil konsep pada pintu-pintu gerbang yang ada di Eropa, khususnya negeri Belanda. Di atas pintu ini terdapat ornament seperti susunan batu bata yang ditata mengikuti garis pintu dengan posisi vertikal. Di atasnya lagi terdapat ornament lain berupa hiasan profil yang terdiri dari dua bagian.

Selain itu hampir semua bagian dinding fasad yang terdiri dari beberapa tingkat ini penuh dengan hiasan yang dibuat dalam berbagai macam gaya etnik. Ada Hindu, Islam, Jawa, Kristen, Eropa dan Cina. Bahkan bangunan yang ada di dalam tembok ini sebenarnya juga menggunakan paduan gaya yang terdiri dari beberapa jenis sekaligus. Hal ini menjadi suatu bukti jika proses penyatuan budaya bisa berjalan dengan baik di daerah kerajaan Sumenep ini.

Konstruksi bangunan atau kolom yang menyatu dengan dinding, juga terpengaruh oleh gaya Eropa lain yaitu dari Yunani. Kolom yang jumlahnya ada beberapa ini memakai bentuk kotak dan pada bagian tengah dan atas diberi hiasan profil dengan tampilan yang sangat indah.

Warna yang digunakan adalah putih dan kuning emas. Putih dipakai sebagai warna dasar pada semua bagian dinding. Untuk hiasan dan ornament yang lain diberi warna kuning emas. Warna ini juga digunakan untuk menciptakan garis-garis pada ornament profil yang memisahkan setiap bagian dinding.

Kesan yang megah, gagah dan berwibawa hadir dari penggunaan warna putih. Sedangkan warna kuning emas, memunculkan kesan yang sangat mewah, anggun dan cantik.

Sumber gambar : http://www.tripadvisor.in

 

Artikel Lainnya :