Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Desain Interior Ruang Tamu Keraton Cirebon

Desain Interior Ruang Tamu Keraton Cirebon
Keraton Cirebon atau keraton Kasepuhan telah menjadi komplek bangunan yang punya usia paling tua di kota ini. Pendiriannya dimulai pada tahun 1430 dan diperluas lagi pada tahun 1529 oleh raja yang berkuasa pada saat itu yaitu Sunan Gunung Jati.

Sebelumnya, bangunan kerajaan ini dibuat dengan arsitekur etnik Sunda yang sangat khas dan dipadu dengan gaya Majapahit yang berasal dari Jawa Timur. Namun setelah bangsa-bangsa dari Eropa mulai berdatangan di kepulauan nusantara, perisiwa ini juga punya pengaruh yang sangat besar terhadap gaya arsitektur baik pada bangunan-bangunan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Keraton Cirebon ini. Hal ini terjadi bukan hanya pada sisi eksteriornya saja, namun juga pada bagian interiornya.

Contonya adalah desain interior ruang tamu Keraton Cirebon atau yang lebih sering disebut dengan Bangsal Pringgandani seperti yang nampak pada gambar. Di dalam ruang ini kita bisa menyaksikan paduan gaya Eropa yang dipadu dengan gaya etnik daerah setempat. Penggunaan konsep desain interior seperti ini juga bisa dijumpai pada ruang-ruang yang berada di bangunan kerajaan lain di Indonesia.

Penguasa atau raja yang sedang memegang kekuasaan sering mencoba untuk memasukan dan mengadopsi gaya arstektur dari luar yang dikombinasi dengan gaya tradisional. Bahkan Sultan dari Cirebon juga memakai konsep paduan dua budaya atau lebih ini untuk menciptakan desain interior pada tempat tinggalnya sehingga memunculkan gaya yang lebih baru.

Perabot furniture yang ada di dalam ruang Bangsal Pringgandani ini hampir semuanya memakai gaya Eropa yang sangat kental. Terutama sekali pada model kursi yang ada digunakan para tamu ketika menghadap sang Raja. Gaya yang digunakan pada kursi ini sering ditemukan pada kursi-kursi yang ada di Perancis teutama pada abad ke XVII hingga XIX.

Salah satu ciri utamanya terletak pada bagian kaki yang bentuknya melengkung keluar dan diberi ornament ukiran. Warna yang digunakan adalah kuning gading yang dikombinasi dengan warna kuning emas untuk membuat garis-garis pada bagian pinggir dan hiasan ukir serta profil. Perabot furniture termasuk kursi yang ada di Jawa, termasuk Cirebon lebih sering menggunakan warna yang asli yaitu coklat. Penggunaan warna selain coklat jarang sekali diaplikasikan.

Hal ini bisa dibuktikan pada element penyakat ruang atau partisi yang diletakan di belakang kursi tempat duduk raja yang punya ukuran lebih besar. Partisi yang penuh dengan ornament ukiran gaya etnik tersebut juga tidak diberi warna, kecuali hanya pelitur yang digunakan dengan tujuan untuk menciptakan kesan yang mengkilap dan lebih mewah.

Warna yang digunakan pada tiang konstruksi dan plafon adalah biru, sama persis dengan warna yang digunakan pada bangunan keraton lain yang ada di Jawa Tengah yaitu Keraton Kasunanan di kota Solo. Element ini dibuat menggunakan bahan dari kayu jati. Di beberapa bagaian diberi hiasan ukiran dan profil yang diberi warna kuning emas.

Gaya Eropa kembali muncul pada hiasan lampu gantung yang diletakan di tengah ruang dengan ukuran yang cukup besar. Kesan yang sangat agung dan berwibawa hadir dari hiasan ini. Lampu gantung tersebut terbuat dari bahan kristal, dengan bentuk yang melingkar ke samping. Bohlam lampu yang dipasang posisinya ada di atas dan punya arah hadap yang sama.

Dan selain gaya Eropa, desain interior yang ada di ruang ini juga memasukan unsur budaya dari daerah atau negeri yang lain seperti India, Cina, Arab dan Islam serta Hindu. Jadi ketika masuk kita tidak akan menemukan tipikal desain tertentu seperti Sunda saja, tapi paduan multi budaya. Meski begitu, perpaduan tersebut tetap bisa menghasilkan kesan yang sangat khas dan istimewa.

Sumber gambar : http://sahabatmuseum.multiply.com

 

Artikel Lainnya :