Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Gapura Tradisional Minang di Bukit Tinggi

Gapura Tradisional Minang di Bukit Tinggi
Di daerah Bukit Tinggi Sumatera persisnya di bukit Jireg ada sebuah benteng yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda dan dinamakan dengan Benteng Fort De Cock. Pada saat itu benteng ini digunakan sebagai pusat pertahanan pemerintah kolonial ketika harus melakukan peperangan dengan pahlawan nasional kita Tuanku Imam Bonjol. Peristiwa yang sangat dasyat ini lebih dikenal dengan sebutan Perang Paderi.

Pada tahun 2003 lalu, setelah dilakukan pemugaran kembali, benteng yang telah beralih fungsi menjadi obyek wisata sejarah ini diresmikan oleh Walikota yang pada ketika itu dijabat oleh Drs. H. Djufri pada tanggal 15 Maret. Salah satu element yang dipugar ini adalah jembatan yang menjadi akses untuk masuk ke dalam komplek bangunan beteng.

Salah satu hal yang menarik adalah, gapura yang ada di depan jembatan ini dibuat dengan desain yang sangat indah dan menghadirkan kesan etnik khas Minang. Tampilan secara utuh arsitektur gapura tradisional Minang di Bukit Tinggi yang dinamakan dengan Jembatan Limpapeh ini bisa dilihat dalam gambar.

Aroma indah yang paling utama muncul dari dinding fasad yang ada di bawah atap. Warna khas Minang yaitu paduan hijau dan merah mendominasi hiasan atau ornament yang ada di tempat ini. Hiasan ini terdiri dari kotak-kotak kecil yang didalamnya terdapat lukisan etnik yang motifnya berbeda-beda. Warna hijau yang diberi kombinasi putih untuk membuat garis diaplikasikan pada lukisan motif ini. sementara itu warna merah dipakai untuk membuat garis-garis besar yang memisahkan antara gambar motif yang satu dengan gambar motif yang lain.

Untuk hiasan motif yang ada di bawah, bentuknya tidak kotak-kotak melainkan garis panjang yang terdiri dari dua garis. Bentuk hiasan garis ini juga dipakai untuk mencitakan ornament yang ada di pinggir atas namun dengan posisi yang miring dan saling menyilang.

Penggunaan konsep penataan garis seperti ini lalu menghasilkan bidang segi empat yang lancip pada bagian atas dan bawah. Bidang ini tidak dibiarkan kosong, namun juga diberi lukisan motif dengan konsep yang sama. Hal ini menjadikan fasad pada dinding atap ini terlihat sangat indah dan anggun.

Element lain yang juga punya tampilan tidak kalah cantik yaitu bagian atapnya sendiri. Desain dari atap ini menggunakan bentuk pelana kuda atau segitiga, namun dibuat melengkung ke dalam pada bagian sisi yang ada di pinggir kanan dan kiri. Sehingga tampilan atap tampak makin unik.

Warna yang digunakan pada ornament atau papan penutup atap yang ada di samping depan yaitu putih perak. Bagian yang ada di atas ada bidang segitiga lain yang ukurannya kecil dan punya bentuk seperti dinding fasad juga. Di tempat ini juga dibuat ornament ukiran etnik Minang yang dibuat menggunakan konsep dua dimensi.

Fasad kecil ini kemudian bagian pinggirnya terus melengkung ke atas dan membentuk tampilan yang makin lancip. Di atasnya ada hiasan lain seperti menara yang dilengkapi dengan bola-bola dengan ornament bubut yang membentuk lingakar atau bundaran kecil. Namun bagian ujungnya tetap lancip dan runcing. Hal ini menjadikan tampilan bangunan terlihat makin tinggi tapi tetap bersahaja.

Untuk tiang penyangga atau konstruksi yang ada di bawah, meski punya konsep desain yang lebih sederhana tapi tampilannya tetap terlihat indah. Warna yang digunakan adalah paduan dari kuning gading dan biru muda. Kuning gading untuk memberi warna dasar pada dinding, sedang biru muda untuk memberi warna pada garis-garis kerangka dan konstruksi.

Secara keseluruhan, desain pintu jembatan ini sangat bagus. Hanya saja yang patut disayangkan adalah, papan yang digunakan untuk membuat tulisan yang berkaitan dengan proyek renovasi ini ditempelkan pada dinding fasad atap, sehingga keindahan element ini tidak bisa dinikmati secara penuh oleh pengunjung yang datang.

Sumber gambar : http://fotopurwoko.blogspot.com

 

Artikel Lainnya :