Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Keindahan Desain Gedung DPR RI

Keindahan Desain Gedung DPR RI
Sebagai negara yang menganut paham demokrasi, Indonesia juga punya anggota parlemen yang dinamakan Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR. Anggota DPR ini dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat menempati suatu gedung yang berada di Komplek Senayan yaitu Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia.

Gedung ini mulai dibangun pada tanggal 8 Maret 1965. Ketika itu Presiden Soekarno bermaksud menyelenggarakan CONEFO, yaitu suatu konferensi yang bertujuan untuk menandigi organisai PBB yang dianggap sebagai simbol dari kekuatan faham kapitalis. Ketika pemerintahan Presiden pertama ini jatuh dan kekuasaan berpindah tangan pada Presiden Soeharto, proses pembangunan tetap dilanjutkan. Hanya saja fungsinya dirubah menjadi Gedung MPR dan DPR hingga saat ini.

Desain gedung ini dirancang oleh seorang arsitektur atau ahli bangunan yang bernama Soejoedi Wirjoatmodjo. Dari lantai dasar paling bawah hingga atap bangunan punya ukuran tinggi seratus meter dan terbagi menjadi duapuluh empat lantai. Sedangkan total luas bangunannya mencapai delapan puluh ribu meter persegi.

Keunikan dan keindahan desain gedung DPR RI ini terutama tampak pada bagian atap atau puncaknya. Atap ini punya tampilan seperti tempurung atau tubuh binatang kura-kura tapi terbelah menjadi dua bagian. Bagian tengahnya melengkung kearah bawah dan diberi semacam sabuk yang melengkung hingga ke lantai yang ada dibawah atau dasar. Sabuk yang jumlahnya ada dua ini membelah pada bagian bawah kemudian membentuk ruang yang kosong.

Ruang atau bidang yang kosong ini selanjutnya dipakai sebagai tempat untuk membuat tangga yang menjadi akses untuk masuk ke dalam ruang yang ada di lantai atas. Tangga ini punya ukuran yang sagat besar, lebar dan panjang. Meski menggunakan konsep berundah, tapi dibuat menjadi berapa bagian, dimana masing-masing bagian tersebut punya ukuran kemiringan yang berbeda.

Hal ini bertujuan untuk menciptakan tangga yang lebih landai, sehingga orang atau pengunjung yang ingin naik ke lantai atas dari luar tidak akan mudah lelah dan capek. Selain itu pada bagian tengah dari tangga ini tidak dibuat secara berundak, tapi membentuk bidang datar yang miring. Tujuan dari pembuatan tangga datar ini yaitu sebagai akses untuk pengunjung difabel atau cacat tubuh yang tidak mampu berjalan pada tangga berundak dan harus menggunakan kursi roda.

Dari dulu hingga saat ini, warna yang digunakan pada atap yang membentuk tempurung kura-kura tersebut tidak pernah berubah, yaitu hijau. Sedangkan sabuk yang juga berfungsi sebagai konstruksi atap di beri warna abu-abu. Kemudian bagian tengah dari tangga yang digunakan oleh kaum difabel menggunakan warna putih.

Selain punya nilai keindahan arstektur yang menarik, bentuk atap kura-kura ini sebenarnya juga punya makna filsafat yang cukup dalam. Banyak orang yang mengatakan bila Tugu Monas yang bentuknya menjulang adalah simbol dari sifat yang maskulin atau laki-laki dan pemimpin. Dan sebagaimana kita ketahui, lokasi Tugu Monas ini tidak terlalu jauh dari Istana Presiden dan Istana Negara yang merupakan simbol dari pusat pemerintahan atau kekuasaan.

Kemudian untuk Gedung DPR, meski punya ukuran yang cukup besar dan tinggi namun bagian atasnya tetap landai tidak menjulang ke atas. Ini merupakan simbol dari sifat yang feminim atau keibuan. Secara politik, dari tempat inilah dibuat aneka undang-undang yang merupakan hasil kerjasama antara pihak eksekutif dalam hal ini adalah presiden dan pihak legislatif atau DPR. Jadi secara umum bisa dikatakan jika undang-undang anak yang meruapkan hasil kerja sama antara pihak ayah atau presiden dan pihak ibu atau DPR.

Sumber gambar : http://www.pelitaonline.com

 

Artikel Lainnya :