Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Desain Gereja di Tanah Karo

Desain Gereja di Tanah Karo
Pada umumnya bangunan gereja yang ada di Indonesia lebih sering menggunakan konsep desain bergaya Eropa. Hal ini sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang aneh, karena penyebaran Agama Kristen dan Nasrani yang berkembang di negara ini juga dilakukan dilakukan oleh orang-orang Eropa terutama Belanda pada masa kolonial dulu.

Namun tidak selamanya bangunan Gereja selalu menggunakan gaya Eropa. Bahkan desain etnik juga bisa diaplikasi untuk membuat tempat ibadah untuk umat Kristen ini dengan tampilan yang lebih indah dan menarik. Contohnya adalah desain gereja di Tanah Karo Provinsi Sumatera Utara ini.

Bukan hanya pada desain bangunannya saja, nuansa khas tradisional Batak hampir memenuhi semua element dan bagian yang ada. Bahkan jika dilihat secara sekilas saja, orang pasti tidak akan sadar jika bangunan itu merupakan tempat untuk melakukan sembahyang bagi pemeluk agama Kristen. Tanda yang paling nyata dan menunjukan jika bangunan tersebut adalah gereja yaitu terletak pada simbol salib yang berada di bagian paling atas atau atap dan salib lain yang ada di bagian dalam atap.

Warna dominan yang digunakan pada bangunan yang diberi nama Gereja St. Fransiskus Asisi ini adalah coklat tua, kuning dan merah serta putih. Warna coklat tua diaplikasikan pada bagian atas atau atap yang punya ukuran lebih tinggi dari dinding. Atap yang menjulang ini terbagi menjadi tiga bagian, yiatu bawah, tengah dan atas.

Atap paling bawah punya ukuran yang paling besar dan paling tinggi serta menggunakan bentuk limas. Namun berbeda dengan atap limas yang sering ditemukan pada rumah Joglo di Jawa, atap limas pada bangunan tradisional Karo selalu diberi semacam anak atap yang difungsikan sebagai media untuk sirkulasi udara dan pencahayaan secara alami.

Atap kecil yang ada di depan, bagian bawahnya digunakan untuk meletakan papan yang diberi hiasan simbol salib. Merah terang digunakan untuk memberi warna pada lukisan salib tersebut. Penggunaan warna yang kontras dengan coklat tua menjadikan bentuk salib bisa terlihat dengan jelas meski hanya punya ukuran yang kecil saja.

Untuk atap yang ada di tengah, dipisah dengan garis dinding yang kecil namun tampak terlihat dengan jelas, karena menggunakan warna putih terang. Pada dinding pemisah ini terdapat lukisan motif tradisional Batak yang sangat indah dan khas serta memanjang. Warna yang dipakai untuk membuat motif tersebut adalah merah.

Bagian atas dari atap kedua ini juga diberi atap lain yang lebih kecil dan pada bagian fasadnya diberi hiasan motif berupa manusia namun dalam visual yang tidak begitu jelas. Warna yang digunakan untuk membuat hiasan pada dinding fasad ini adalah merah, putih dan hitam.

Sedangkan atap yang ada dibagian paling atas, punya ukuran paling kecil sekaligus punya bentuk yang paling unik. Karena atap tersebut berupa anak atap kecil seperti yang ada di bagian bawah, namun dibuat secara menyatu. Di bagian inilah simbol salib diletakan. Fasadnya juga diberi hiasan dengan motif yang sama seperti atap yang ada di tengah.

Sementara itu, dinding yang ada di bawah meski punya ukuran yang tidak begitu tinggi namun punya daya tarik yang unik juga. Salah satunya adalah karena dinding ini punya dua bagian, atas dan bawah. Yang sangat unik adalah, dinding yang berada di atas dibuat miring ke samping, sehingga membuat bangunan menjadi lebih besar dari ukuran pondasi yang ada di bawah.

Dinding ini selanjutnya diberi hiasan berupa gambar-gambar dan lukisan motif khas Batak Karo yang sangat cantik dan punya nilai seni yang tinggi. Ornament seperti ini menjadikan bangunan tersebut terlihat makin indah dan menghasilkan kesan etnik yang sangat khas.

Sumber gambar : http://www.raptim-indonesia.co.id

 

Artikel Lainnya :