Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Bangunan Masjid Bernuansa China di Surabaya

Bangunan Masjid Bernuansa China di Surabaya
Bangunan Masjid pada umumnya menggunakan konsep desain dan gaya Timur Tengah. Namun hal ini sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang mutlak dan harus dilakukan ketika membuat bangunan yang menjadi tempat ibadah bagi Umat Islam ini. Bangunan Masjid sebenarnya boleh menggunakan konsep desain dari mana saja, karena tidak ada aturan yang baku yang membahas tentang masalah ini.

Contoh yang paling nyata di daerah Jawa Timur. Di tempat ini terdapat bangunan Masjid yang menggunakan corak lain dari pada yang lain, yaitu gaya tradisional Cina. Dan seperti bangunan tradisional Tionghua pada umumnya, bangunan Masjid bernuansa Cina di Surabaya ini juga didominasi oleh warna merah yang dipadu dengan warna lain yaitu hijau dan kuning. Dan selain digunakan sebagai tempat untuk melakukan ibadah, Masjid ini juga dijadikan sebagai salah satu obyek wisata religius.

Jika dilihat secara sekilas, bentuk bangunan utamanya sperti kelenteng yang biasanya dipakai oleh penganut kepercayaan Tri Dharma untuk melalukan upacara ritual. Hampir semua bagian penuh aroma Tiongkok Kuno yang sangat kental. Pintu yang ada di bagian depan punya bentuk melengkung seperti kubah dan diberi garis warna kuning.

Pintu ini jumlahnya ada tiga yang diletakan secara berjajar. Pintu yang ada di tengah punya ukuran yang paling besar dan tinggi, sedang pintu yang berada di sebelah kiri dan kanan punya ukuran yang lebih pendek dan kecil. Semua pintu ini dibuat melengkung pada bagian atasnya. Jadi gaya arsitektur Arab juga dimasukan ke dalam desain bangunan ini.

Hal lain yang cukup menarik adalah, pintu ini tidak dilengkapi dengan daun penutup. Tiadanya daun penutup ini punya maksud filsafat yang sangat dalam. Yaitu siapa saja boleh masuk dan menggunakan semua fasilitas yang ada di dalam Masjid untuk keperluan ibadah. Meski berasal dari suku dan etnik yang berbeda, semua punya hak dan kewajiban yang sama.

Bagian atas dari pintu terdapat dua tulisan yang menggunakan huruf latin biasa dan aksara Cina. Namun keduanya mengandung arti dan makna yang sama yaitu menyebutkan nama Masjid itu, Masjid Cheng Ho. Sebutan ini diambil dari nama seorang tokoh penjelajah dunia dari Cina yang telah memeluk Agama Islam semenjak dia masih kecil. Ketika melakukan pelayaran, dia pernah singgah di pulau Jawa, tepatnya kota Semarang.

Di atas papan nama masjid ini terdapat hiasan kaligrafi Arab yang berada di dalam lingkaran kecil di tengah dinding fasad. Ini menunjukan jika Masjid Cheng Ho ini mampu memadukan unsur desain Cina dan gaya Islam dengan baik. Hal ini bukan merupakan suatu hal yang aneh, karena konsep desain Masjid ini diadaptasi dari Masjid kuno di Beijing yang dibangun sekitar tahun 996 Masehi.

Selain memasukan unsur Cina yang menjadi dominan, Masjid Cheng Ho juga memasukan gaya arsitektur tradisional Jawa dan Timur Tengah. Atap utamanya menggunakan model susun tiga dan terdiri dari delapan sisi atau segi. Bagi masyarakat Tionghwa, jumlah delapan ini punya makna kejayaan dan keberuntungan.

Selain delapan, ada makna lain yang hadir dari luas pada bangunan utama. Luas bangunan ini adalah sebelas kali sembilan meter. Angka sebelas diambil dari ukuran bangunan Ka'bah ketika mulai dibuat. Sedangkan angka sembilan merupakan simbol dari jumlah wali yang menyebarkan Agama Islam di Pulau Jawa. Jumlah wali ini semuanya juga ada sembilan orang.

Kemudian anak tangga yang ada di serambi atau teras depan jumlahnya ada lima. Angka ini juga mengandung arti sebagai jumlah rukun Islam. Lalu jumlah anak tangga yang berada di dalam ruang, seluruhnya ada enam yang merupakan jumlah dari rukun Imam.

Sumber gambar : http://fikrilosophy.blogspot.com

 

Artikel Lainnya :