Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Rumah Pohon Suku Korawai Papua

Rumah Pohon Suku Korawai Papua
Suku Korowai yang tinggal di daerah pedalaman Papua bisa disebut sebagai suku yang unik tapi cerdik. Salah satu bentuk keunikan sekaligus kepintaran yang mereka miliki yaitu, warga suku tersebut sering membuat bangunan rumah yang letaknya sangat tinggi di atas permukaan tanah. Bahkan ada bangunan rumah yang ukuran ketinggiannya mencapai empat puluh meter.

Alasan yang paling sering dikemukakan oleh mereka yang membuat bangunan dengan ukuran yang sangat tinggi antara lain adalah untuk menghindari adanya serangan atau gangguan dari beberapa jenis binatang yang masih liar dan buas. Selain itu pembuatan rumah yang tinggi ini juga sebagai teknik dan strategi untuk melakukan perburuan terhadap binatang yang dijadikan sebagai bahan makanan.

Karena dengan adanya bangunan yang tinggi, mereka bisa melakukan pengawasan dengan bebas dan leluasa, tanpa menimbulkan kecurigaan atau ketakukan pada binatang yang akan menjadi sasaran perburuan tersebut. Adapun jenis binatang yang paling sering diburu adalah babi hutan dan rusa.

Kemudian untuk alasan yang ketika adalah, untuk memunculkan suasana yang lebih aman serta aturan adat yang sejak dulu sudah berlaku. Adat tradisi suku Korowai memang mengharuskan setiap bangunan rumah harus berada di atas pohon dan menggunakan ukuran yang tinggi dari permukaan tanah.

Salah satu contoh desain dan bentuk rumah pohon Suku Korowai di Papua tersebut bisa dilihat dalam gambar. Bangunan rumah tersebut punya tampilan yang tidak begitu jauh berbeda dengan rumah hunian yang lain, meski terlihat sangat sederhana. Namun yang menjadikan rumah ini terlihat unik adalah, jenis kayu yang digunakan berasal dari pohon yang sama yang dipakai sebagai tempat untuk membuat bangunan.

Hal ini akan mengakibatkan rumah tersebut terlihat sangat menyatu dan bisa bersifat kamuflase. Maksudnya adalah, jika dilihat dari jarak yang agak jauh, rumah ini akan terlihat seperti batang atau cabang pohon yang kering saja. Dengan cara membuat bangunan seperti ini, maka binatang liar yang ada di sekitar tempat itu tidak akan menyadari jika dirinya sedang diawasi dan akan dijadikan sebagai sasaran perburuan.

Hal yang sama juga dilakukan pada kayu yang dijadikan sebagai tangga untuk akses naik dan masuk ke dalam rumah. Tampilan kayu tanggai ini dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terlalu kentara sebagai kayu yang dipasang di tempat itu. Orang awan yang tidak memahami pasti akan menganggap jika kayu tangga tersebut merupakan bagian dari cabang atau batang pohon.

Kayu yang digunakan untuk membuat dinding disusun secara rapat dan vertikal. Agar bisa punya daya tahan yang lebih kuat, beberapa bagian dari susunan kayu vertikal ini diberi kayu panjang lain yang dipasang secara horizontal. Pintu yang digunakan ada dua, diletakan pada bagian depan dan belakang.

Untuk atapnya, berbentuk segitiga dan menggunakan sejenis daun lontar yang sudah kering. Meski menggunakan bentuk segitiga, namun bagian atas atau puncak dari atap ini tidak terlalu lancip. Hal ini dikarenakan derajat kemiringan yang diterapkan tidak terlalu besar. Konsep yang demikian bisa membuat tampilan atap dan bangunan terlihat lebih lebar dan besar.

Sekitar satu meter di bawah lantai bangunan, terdapat susunan kayu yang cukup lebar namun tidak terlalu rapat. Dari tempat inilah penghuni rumah sering melakukan pengawasan terhadap binatang buruan atau musuh dari suku lain ketika terjadi peperangan atau sengketa. Sama dengan element yang lain, tampilan dari element seperti lantai ini juga tidak terlihat jelas, karena dibuat secara samar-samar saja.

Meski sangat jauh dari kesan modern, namun keberadaan bangunan rumah ini bagaimanapun juga bisa menambah khasanah budaya bangsa kita, terutama pada bidang arsitektur bangunan.

Sumber gambar : http://raja-alamnews.blogspot.com

 

Artikel Lainnya :