Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Mengenal Struktur Konstruksi Rumah Kudus

Mengenal Struktur Konstruksi Rumah Kudus
Arsitekur dan desain rumah Kudis adalah salah satu bentuk variasi rumah tradisional lain yang berasal dari Jawa Tengah. Konsep pembangunannya memakai kayu yang dibuat dengan sistem knock down, menjadikan bangunan rumah untuk hunian keluarga tersebut bisa dibongkar dan dipasang kembali serta dipindah-pindahkan dengan mudah tanpa merusak atau mengubah bentuk aslinya sama sekali.

Namun meski stuktur konstruksi rumah Kudus dibuat dengan sistem knock down, sebenarnya rumah adat ini punya lebih dari satu bangunan. Bangunan utama untuk tempat tinggal sedang bangungan yang lain dipakai untuk menunjang kegiatan sehari-hari anggota keluarga atau yang penghuni rumah tersebut. Pola yang sering dipakai yaitu, bangunan utama yang namanya Dalem atau Jogosatru ada di bagian paling depan, kemudian bangunan untuk memasak yang namanya Pawon ada di sebelah sampingnya.

Di bagian paling depan terdapat halaman. Yang cukup menarik adalah, pintu pagar atau regol yang merupakan akses untuk masuk ke dalam komplek rumah tidak diletakan pada bagian depan halaman, melainkan di bagian samping. Selain pintu regol, sisi lain dari halaman ini juga sering terdapat sumur dan kamar mandi. Sehingga ketika ada pengungjung atau tamu yang hadir, mereka bisa membersihkan diri lebih dulu sebelum masuk dan diterima oleh penghuni rumah.

Pondasi bangunan atau sering disebut dengan batur menggunakan bagu kali. Pondasi yang dibuat ini membentuk lantai yang ukurannya lebih tinggi dari permukaan tanah serta berundah-undak. Selain berfunsi sebagai pondasi, element ini juga dipakai sebagai tempat untuk meletakan balok serta kayu kerangka yang diletakan secara horizontal. Ukuran besarnya menggunakan dimensi duapuluh kali tigapuluh sentimeter.

Kemudian untuk lantainya, lebih sering memakai ubin dari bahan batu bata. Sebelum batu bata dipasang, pondasi diurug atau ditutup dengan tanah lebih dulu. Sedangkan lantai yang berada di bagian dalam, lebih sering menggunakan gladagan, yaitu lantai dari papan kayu yang dipasang secara utuh dan saling berjejer dan bersambungan. Kadangkala, selain untuk lantai, gladakan juga dipakai untuk menyimpan suatu benda berharga namun bersifat rahasia yang diletakan pada bagian bawah lantai.

Untuk dindingnya, terdiri dari dua macam yaitu dinding pengisi dan rangka dinding. Fungsi dari dinding pengisi adalah sebagai media untuk menutup dan memberi batasan ruang. Sedang rangka dinding berguna sebagai penyangga beban dari bagian atas bangunan atau atap.

Namun rangka dinding ini hanya sebagai penahan tambahan saja. Karena penahan utamanya berasal dari tiang utama atau soko guru yang jumlahnya ada empat. Soko guru ini lalu disatukan dengan dua kayu balok yang lain yang dipasang pada bagian atas dan bawah.

Yang ada di atas namanya tutup kepuh. Teknik pemasangannya menggunakan posisi horizontal dan menyangga balok lain yang disebut dengan balok tumpang. Sedangkan balok yang berada di bawah namanya sunduk kili dan dipasang secara vertikal. Manfaat utama dari penggunaan balok ini adalah agar susunan konstruksi menjadi stabil dan tidak mudah mengalami pergeseran atau perpindahan posisi dan tempat.

Selanjutnya di dalam ruang ada tiang lain yang namamya soko gender. Namun meski memakai ukuran yang sangat besar, keberadaan soko gender ini tidak punya fungsi struktural yang cukup signifikan. Karena yang ditonjolkan dari soko gender ini adalah fungsi simbolisnya.

Selain konstruksi, masih ada perbedaan lain antara rumah Kudus dan rumah Joglo yang lain, yaitu pada bagian atapmya. Kemiringan atap rumah Kudus ada tiga hingga empat tingkat. Makin ke atas, tingkatan tersebut punya ukuran yang lebih tinggi dan menjulang. Hal ini menjadikan bentuk bangunan terlihat lebih tinggi dibanding dengan rumah joglo yang berasal dari kota lain.

Sumber gambar : http://xdesignmw.wordpress.com

 

Artikel Lainnya :