Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Atap Kerucut Pada Rumah Adat Wae Rebo NTT

Atap Kerucut Pada Rumah Adat Wae Rebo NTT
Wae Rebo merupakan nama suatu kampung atau desa kecil yang terletak di daerah Kabuapaten Manggarai propinsi Nusa Tenggara Timur atau NTT. Kampung ini memang tidak begitu dikenal oleh masyarakat setempat. Bahkan warga yang masih satu kecamatan dengan kampung ini saja kadangkala juga tidak mengenalnya.

Lokasinya sendiri berada di sebuah desa yang bernama Satar Lenda, bagian dari Kecamatan Satarmese. Pemukiman penduduk asli ini berada di suatu lahan yang punya ketinggian sekitar 1.100 dpl atau di atas permukaan laut. Selain itu kampung yang masih sangat terpencil tersebut juga berada di tengah hutan yang lebat dan tertutup oleh gunung.

Menurut catatan sejarah yang ada, orang Maro adalah yang menjadi cikal bakal atau penduduk pertama yang tinggal di Wae Rebo ini. Mereka datang kemudian menetap sekaligus memilih tempat ini sebagai daerah hunian yang baru. Keberadaan kampung dan penduduknya ini mulai diketahui oleh pemerintah Belanda ketika mereka mulai menguasai wilayah NTT.

Meski lokasinya berada di tempat yang jauh dari keramaian dan sulit dijangkau oleh tranportasi, namun kampung Wae Rebo sangat terkenal terutama oleh wisatawan asing dari negara-negara Eropa. Salah satu sebabnya adalah desain rumah atau tempat tinggal penduduk Wae Rebo ini dinilai punya bentuk dan karakter yang unik dan punya daya tarik yang tinggi.

Daya tarik utama pada bangunan tempat tinggal tersebut adalah atapnya selalu menggunakan bentuk yang lancip seperti kerucut dan berfungsi sekaligus sebagai dinding. Bahan yang dipakai untuk membuat atap kerucut pada rumah Adat Wae Rebo NTT tersebut tidak menggunakan rumput ilalang atau jerami sebagaimana rumah adat di Indonesia yang lain, tapi menggunakan daun lontar yang sudah dikeringkan.

Jika diperhatikan dengan seksama, bangunan rumah yang diberi nama sebagai Mbaru Niang ini punya tampilan yang tidak jauh berbeda dengan bangunan rumah Honai yang dibuat oleh suku Dani di daerah Papua. Namun ada perbedaan yang cukup kentara, yaitu bentuk kerucut yang dipalikasikan punya ukuran yang lebih panjang, bahkan hampir menyentuh permukaan tanah.

Rumah Mbaru Niang ini terbilang cukup unik dan agak aneh, karena meski punya ukuran yang tidak begitu besar namun bisa dibuat menjadi lima tingkat. Untuk tingkat yang paling bawah atau pertama dinamakan dengan tenda atau lutur. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat tinggal bagi penghuni atau pemilik bangunan.

Lantai yang kedua namanya Lobo. Di lantai ini semua bahan makanan dan makanan yang sudah jadi disimpan dengan baik. Selain untuk menyimpan makanan, lantai Lobo juga dipakai sebagai tempat untuk menyimpan barang.

Selanjutnya untuk lantai ketiga, difungsikan sebagai ruang penyimpanan benih tanaman yang nantinya dipakai untuk melakukan kegiatan utama penduduk yaitu bercocok tanam. Nama lantai ini adalah Lentar. Sedangkan lantai yang keempat, yaitu Lempa Rae, punya fungsi yang tidak jauh berbeda dengan lantai kedua yaitu untuk menyimpan bahan makanan namun hanya sebagai cadangan atau stok saja untuk berjaga-jaga jika hasil panen selanjutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya terjadi kegagalan atau hasilnya tidak begitu baik.

Yang terakhir lantai paling atas, dinamakan Hekang Kode. Karena berada dibagian puncak, maka lantai ini digunakan untuk menempatkan aneka jenis sesaji sebagai media melakukan doa dan berhubungan dengan leluhur mereka.

Adapun untuk proses pembuatannya, juga terbilang menarik karena sama sekali tidak memakai paku. Semua element dan konstruksi disusun dan disatukan dengan paku pasak dan dibuatkan ikatan dari tali rotan. Konsep pembangunan yang tidak biasa inilah yang sering menjadikan para arsitektur bangunan baik dari luar negeri atau Indonesia datang ke tempat ini untuk melakukan penelitian secara lebih mendalam.

Sumber gambar : http://archiholic99danoes.blogspot.com

 

Artikel Lainnya :