Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Makna Filasafat Arsitektur Rumah Tradisional Buton

Makna Filasafat Arsitektur Rumah Tradisional Buton
Rumah adat atau tradisional Buton selalu menggunakan konsep rumah panggung dan semua bagiannya menggunakan bahan dari kayu. Bangunan ini terdiri dari empat lantai atau tingkat. Lantai yang pertama atau yang paling bawah punya ukuran yang lebih besar dari lantai nomor dua. Selanjutnya lantai yang ketiga juga lebih kecil dan lantai yang keempat justru agak lebar.

Kemudian tiang yang ada dibagian depan jumlahnya ada lima dan berderet ke belakang hingga delapan baris. Jadi jumlah seluruh tiang yang digunakan ada empatpuluh. Tiang utamanya diberi nama tiang Tutumbu yang mengandung arti selalu tumbuh. Kayunya diambil dari pohon wala yang dipotong dan dibentuk persegi empat atau bundar.

Selain menggunakan konsep gaya desain dan struktur bangunan yang baik, ada aneka makna filsafat arsitektur rumah tradisional Buton . Contoh yang paling nyata adalah bangunan istana Malige seperti yang terlihat pada gambar. Khusus untuk penggunaan konstruksi dan element lain, terdapat arti filsafat yang antara lain adalah susunan atap yang pada bagian kanan dan kirinya ada kotak yang memanjang dan digunakan sebagai gudang atau bilik.

Maksud dari konsep seperti ini yaitu merupakan penggambaran dari kedua tangan yang sedang bersedekap karena melakukan ibadah shalat. Tangan di sebelah kanan berada diatas sedangkan tangan kiri berada di bagian bawah atau dalam.

Kemudian balok kayu yang menjadi penghubung selalu dibuat dengan bentuk yang halus, hal ini merupakan penggambaran bahwa masing-masing penghuni rumah atau istana harus selalu punya sopan santun dan tingkah laku yang baik serta mampu menjadi orang yang beriman dan rajin berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selanjutnya tiang penyangga dibagi menjadi tiga, yang nomor satu dinamakan Kabelai atau Tutumbu yang menjadi symbol dari sifat Tuhan yang Esa. Selain itu karena Tuhan punya sifat Yang Maha Suci, maka bagian dari ujung tiang ini diberi kain yang warnanya putih.

Lalu tiang yang nomor dua diberi nama Tada yang punya arti sebagai status sosial atau derajat penghuni rumah dalam istana dan kerajaan. Selanjutnya tiang untuk pembantu atau pelengkap punya makna jika raja harus bisa menjadi pelindung dan punya semangat kerja sama serta selalu punya sifat terbuka kepada rakyat yang dipimpin.

Selanjutnya pintu dan tangga juga punya maksud saling menjadi pelengkap. Tangga yang ada di depan berhubungan dengan pintu yang arahnya sesuai dengan bentuk bangunan yang menghadap ke Timur dan Barat. Penggunaan arah ini mengandung arti posisi orang ketika sedang melakukan ibadah shalat. Adapun arti filsafat lainnya yaitu untuk mengingkatkan kepada setiap manusia jika perjalanan manusia itu secara garis besar terbagi menjadi tiga hal pokok yaitu lahir, tumbuh lalu meninggal.

Lantai yang menggunakan bahan dari kayu jati tidak hanya sekedar untuk memunculkan kesan yang artistik saja, namun juga mengandung arti bahwa raja punya kedudukan sosial yang lebih tinggi. Namun pada sisi yang lain, seorang raja juga harus punya perilaku yang selalu tenang dan kepala dingin terutama ketika sedang menghadapi persoalan yang berat dan punya hubungan dengan kehidupan semua lapisan masyarakat.

Dinding bangunan yang selalu dipasang rapat juga punya arti filsafat tertentu. Yaitu sebagai lambang dari alam nyata dan alam ghaib atau kematian. Selain itu dinding tersebut juga menjadi simbol perwujudan raja yang juga menjadi khalifah atau pemimpin umat.

Jendela yang berfungsi sebagai media untuk menciptakan sistem sirkulasi udara yang baik diberi nama bhalo-bhalo bamba. Jendela ini diberi ornament atau hiasan berupa balok yang melintang. Hal ini merupakan penggambaran dari konsep kehidupan masyarakat Buton yang mempercayai keberadaan Tuhan sebagai penguasa alam semesta.

Sumber gambar : http://rosna.blog.unissula.ac.id

 

Artikel Lainnya :