Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Menerapkan Konsep Atap Joglo

Menerapkan Konsep Atap Joglo
Atap Joglo adalah salah satu jenis atap tradisional yang cukup terkenal di Indonesia terutama di daerah Jawa. Bentuknya sangat khas dan punya karateristik tersendiri, sesuai dengan gaya dan desain bangunan yang jenisnya ada beberapa.

Bangunan ini pada umumnya memakai kayu jati sebagai tiang penyangga utama yang diletakan pada bagian tengah dan pinggir bangunan. Selain punya kualitas yang sangat bagus dan kuat, penggunaan kayu ini juga sesuai dengan kepercayaan masyarakat yang punya keyakinan jika kayu ini bisa mendatangkan keberuntungan bagi penghuni rumah.

Untuk struktur bangunannya sendiri, tiang utama atau sering disebut dengan tiang soko membagi beban yang disangganya, terutama beban dari atap pada element dan struktur bangunan yang lain hingga sampai di dalam pondasi atau tanah. Karena itu tiang soko ini sering dibuat dalam ukuran yang besar dan kokoh.

Tiang soko ini terdiri dari beberapa jenis yang namanya disesuaikan dengan letak dan posisinya. Untuk tiang yang menahan atap yang paling tinggi disebut tiang soko guru, kemudian tiang yang ada di luar soko guru dinamakan soko rowo dan tiang yang ada di bagian pinggir atau luar diberi nama soko emper. Selain itu masih ada beberapa jenis tiang lagi yang posisinya menggantung diantara atap atas dan bawah. Namanya soko bentuk. Sedangkan soko santen merupakan tiang yang tidak menahan atap namun menahan beban kayu lain.

Untuk menerapkan konsep atap joglo
, selain harus menggunakan tiang yang semua terdiri dari beberapa jenis, bentuk atap yang miring dan curam juga harus diaplikasikan. Derajat kemiringan dari atap ini tidak sama. Makin ke luar derajat kemiringannya makin berkurang atau landai. Tapi meskipun landai, atap ini harus mampu menyalurkan dan mengalirkan air hujan yang jauh kearah bawah dengan baik.

Kayu yang digunakan untuk membuat atap joglo, selain menggunakan bentuk yang polos juga memakai kayu yang diberi hiasan atau ornament ukiran. Hal ini bisa menimbulkan efek beban yang mesti disalurkan ke bawah hingga tanah menjadi lebih berat. Beban yang harus ditanggung atau disangga oleh tiang soko ini bisa dihitung melalui luas atap yang menjadi beban setiap soko yang ada.

Luas area atap ini lalu dikalikan dengan beban dari atap setiap meter persegi hingga bisa didapat beban yang harus disangga oleh masing-masing tiang soko. Sehingga jumlah beban tanggungan yang mesti disalurkan punya ukuran berat yang lebih kecil atau ringan dibanding tegangan tanah setiap satu sentimeter persegi. Jika beban yang disalurkan tersebut lebih berat atau besar, maka menimbulkan efek pondasi melesak ke dalam tanah.

Melihat kenyataan ini, tentu ruang yang digunakan untuk membuat bangunan joglo harus lebih luas dan pembagian ruangnya juga harus bisa mengikuti susunan dan struktur serta posisi dari masing-masing tiang soko tersebut. Untuk masa sekarang, hal ini sulit untuk diterapkan karena kebutuhan ruang masyarakat saat ini juga sudah mengalami pergeseran dibanding masa lalu.

Jenis kesulitan yang paling sering muncul adalah luas yang tercipta punya ukuran yang lebih kecil dari kebutuhan. Hal ini bisa diatasi dengan cara memundurkan dinding yang menjadi media pembagi ruang. Namun akibatnya, posisi tiang akan menjadi di tengah dan dapat memunculkan masalah tersendiri yaitu pandangan yang tidak nyaman dan penggunaan ruang yang tidak bisa maksimal.

Masalah lainnya, karena lahan yang tersedia saat ini juga tidak begitu luas maka ukuran rumah yang bisa dibuat juga lebih kecil. Padahal tiang soko yang ditempatkan pada ruang yang kecil akan menjadikan ruang tersebut terlihat makin sempit dan tidak sedap dipandang. Untuk mengatasi hal ini ada satu cara yang bisa diterapkan. Yaitu tetap menggunakan atap model joglo namun menerapkan konsep kosntruksi atap bentuk limasan. Dengan cara ini pembagian ruang menjadi lebih mudah dan fleksibel dilakukan.

Sumber gambar : http://properti.kompas.com

 

Artikel Lainnya :