Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Nuansa Kolonial di Rumah Bali

Nuansa Kolonial di Rumah Bali
Tidak berbeda jauh dengan daerah lain di Indonesia, pulau Bali juga pernah dikuasai oleh bangsa kolonial Belanda dalam jangka waktu yang cukup lama. Meski banyak menggoreskan derita, tapi pada sisi yang lain, masa pemerintahan kolonial tersebut juga menyisakan kenangan atau memori yang tidak mudah dilupakan begitu saja.

Salah satu kenangan yang mungkin masih membekas dalam ingatan tersebut adalah bangunan rumah gaya kolonial dengan ciri tertentu yang tidak dipunyai oleh model desain rumah yang lain. Rumah villa yang berada di pulau dewata seperti yang terlihat pada gambar ini juga mencoba untuk menghadirkan kenangan tersebut.

Nuansa kolonial di rumah Bali tersebut hadir terutama pada tampilan konstruksi atau tiang penyangga bangunan yang ada pada bagian depan atau muka. Susunan tiang yang jumlahnya ada tiga disatukan dengan bidang atau dinding yang menjadikan tampilannya seperti pintu kubah tanpa daun penutup, dengan model lengkungan yang lebih spesifik, khas kolonial. Demikian pula dengan penggunaan warna putih pada element ini.

Dinding yang merupakan bagian dari konstruks tiang menyangga ini merupakan penahan beban bangunan terutama untuk bagian atas atau atap. Untuk menghadirkan karakter kolonial yang lebih kuat, di depannya diberi pagar dari tulang besi yang ditutup dengan adonan semen dan pasir.

Bagian belakang dari dinding ini merupakan ruang terbuka yang digunakan untuk membuat taman. Di tempat tersebut terdapat tiga pohon cemara yang diletakan secara berjajar, persis di bagian tengah antara susunan tiang penyangga.

Hal ini menjadikan tampilan dinding dan tiang tersebut terlihat lebih artistik. Apalagi di tengah pohon cemara ini dilengkapi dengan hiasan lain berupa lingkaran seperti roda yang bisa terlihat dengan jelas dari arah depan.
Di sebelah kanan terdapat ruang terbuka lain yang digunakan sebagai veranda atau teras. Tiang penyangga yang digunakan untuk membuat teras ini adalah kayu yang dipasang pada sisi kiri dan kanan. Ukurannya tidak begitu besar karena beban yang harus disangga juga tidak terlalu berat.

Di tempat ini ada kursi untuk bersantai atau menikmati udara segar dan pemandangan alam di sekitar rumah. Kursi yang ukurannya pendek tersebut juga menggunakan desain gaya kolonial. Untuk menghindari adanya curah air hujan yang masuk, teras ini dilengkapi dengan kere dari bambu yang bisa dibuka atau ditutup dengan mudah.

Lantai dua atau atas juga dijadikan sebagai ruang terbuka tanpa menggunakan dinding sama sekali. Pada bagian tengah, tiang penyangga yang dipasang juga menggunakan bahan dari kayu. Namun pada sisi yang berada disebelah kiri, penyangganya tetap menggunakan tiang beton yang ukurannya lebih besar.

Bagian paling atas ditutup dengan atap atau genting dari tanah liat yang dulu sering digunakan pada rumah-rumah tradisional terutama rumah Bali dan Jawa. Bahkan hingga saat ini genting tanah liat ini masih sering dipakai terutama untuk bangunan rumah hunian yang berada di daerah pedesaan.

Atap bangunan ini punya tampilan yang sangat spesifik sehingga mampu memunculkan nuansa masa lalu yang sangat kental. Karakter yang lebih kuat muncul dari ornament yang juga dibuat dari tanah liat dengan bentuk seperti mahkota dan dipasang pada bagian tengah puncak atap.

Nuansa masa lalu yang lain hadir dari halaman yang luas. Di tempat itu ada sumur kuno dengan tampilan yang masih asli. Dua tiang yang digunakan untuk memasang ember timba sebagai alat untuk mengambil air juga masih ada. Sedangkan dinding atau bibir sumur yang berada di bagian tepi ditutup dengan susunan batu alam.

Disebelahnya terdapat pohon hias ukuran besar yang didominasi oleh warna merah atau jingga dari bunga rimbun yang sedang mekar. Hal ini menjadikan halaman tersebut terlihat lebih cerah. Nuansa yang lebih sejuk hadir dari hamparan rumput yang menutup semua permukaan tanah halaman tersebut.

Sumber gambar : http://homeandfurnituregallery.com





Artikel Lainnya :