Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Menggunakan Kayu Utuh atau Glondong Untuk Dinding

Menggunakan Kayu Utuh atau Glondong Untuk Dinding
Bangunan untuk tempat tinggal  tidak selalu harus berbentuk rumah seperti yang digunakan oleh masyarakat pada umumnya. Jika ingin tampilan yang eksentrik rumah bisa dibuat dengan gaya apa saja. Begitu pula dengan bahan yang digunakan, terutama pada bagian dinding atau tembok. Tidak selalu menggunakan bahan batu bata yang diberi lampisan dengan adonan semen dan pasir.

Seperti yang dilakukan oleh seorang warga Belanda bernama Piet Hein Eek ini. Dia membuat sebuah bangunan rumah yang berlokasi di tepian hutan dengan pohon-pohonnya yang masib rimbun dan besar serta tinggi.
Agar bisa menyatu dengan hutan tersebut maka bangunan rumah yang didirikan pada bagian luarnya diberi penutup atau lapisan yang terbuat dari kayu utuh atau gelondongan. Bahkan agar lebih memunculkan kesan yang makin dekat dengan kehidupan hutan, kulit kayu yang masih menempel tidak dilepas sama sekali. Jadi dibiarkan tampil apa adanya.

Jenis kayu yang digunakan juga sama dengan jenis tanaman yang tumbuh di hutan tersebut. Jadi antara hutan dan bangunan rumah ini bisa menjadi satu kesatuan yang tidak terpisakan
Untuk bagian depan, penutup dindingnya menggunakan kayu gelondongan yang dipotong  tipis dengan gergaji dan membentuk lempengan kayu bundar. Lempengan kayu ini kemudian di tempel dan disusun pada tembok luar. Ukuran kayu yang digunakan tidak sama, ada yang besar dan kecil. Tujuannya adalah untuk memunculkan kesan jika tembok ini seperti timbunan kayu hasil penebangan.

Sedangkan pada bagian sampingnya menggunakan kayu gelondongan yang disusun menyerupai tumpukan kayu. Untuk penyambungannya bisa menggunakan besi panjang yang juga berfungsi sebagai kerangka. Namun sebelum disusun,  pada bagian samping ujung dan samping bawah kayu diberi lubang dengan cara dibor. Gunanya untuk memudahkan pemasangan pada kerangka besi.

Pada bagian atas atau atapnya juga demikian, tetap menggunakan kayu gelondong yang disusun secara berjajar dari dari arah samping. Atap genting sama sekali tidak digunakan. Karena tujuan dan pembangunan rumah seperti ini memang dimaksudkan untuk menghilangkan kesan jika bangunan yang seperti tumpukan kayu ini adalah sebuah rumah.

Bahkan untuk keperluan menghilangkan kesan sebuah rumah tersebut, pada bagian jendelanya juga ditutup dengan kayu. Cara penempelan dan penyusunannya juga disesuaikan dengan letak jendela tersebut. Untuk bagian depan menggunakan kayu potong bundar seperti pada dinding.

Sedangkan untuk bagian samping masih menggunakan kayu gelondong utuh yang dibelah menjadi menjadi dua bagian. Pola penyusunannya juga mengikuti pola penyusunan kayu untuk dinding. Sehingga susunan kayu ini benar-benar menyatu dan sama sekali tidak nampak sebagai bangunan rumah sama sekali.
Orang yang lewat di tepian hutan tersebut pasti tidak mengira jika timbunan kayu tersebut adalah sebuah bangunan rumah. Orang akan menyadari ketika jendela atau pintu rumah kayu ini terbuka.

Beberapa keuntungan dari pembuatan rumah seperti ini antara lain adalah penghuni bisa mendapat udara yang segar setiap hari. Karena lokasi yang berada di tepi hutan biasanya jarang terdapat mobil yang lewat atau pabrik yang selalu mengeluarkan polusi udara. Sehingga udara di sekitar rumah tetap bersih dan tidak mengandung partikel-partikel berbahaya.

Selain itu suasana tepi hutan yang sunyi akan memberi ketenangan yang lebih maksimal. Apalagi jika di dalam hutan tersebut masih terdapat aneka binatang yang kadang kala mengeluarkan suara lenguhan atau kicauan burung yang terbang berkeliaran dengan bebas. Seakan-akan kita juga menjadi bagian dari kehidupan di hutan tersebut.

Sumber gambar : http://www.home-designing.com


Artikel Lainnya :