Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Mengenal Teknik Desain Gaya Retro

Mengenal Teknik Desain Gaya Retro
Gaya Retro adalah suatu jenis desain ruang atau rumah yang tekniknya mengulang gaya yang pernah populer pada masa lalu terutama yang berkembang antara tahun 1930 hinga sekitar tahun 1970. Ciri khas dari desain interior ini adalah sifatnya yang atraktif. Tujuan dari penggunaan desain retro ini memang untuk memunculkan memori yang berkaitan dengan gaya-gaya yang berkembang pada masa itu.

Karena menggunakan dasar atau referensi masa lalu, maka gaya retro juga terbagi dalam beberapa jenis sesuai dengan gaya yang berkembang pada masa tersebut. Misalnya adalah gaya retro art deco yang menggunakan konsep desain pada tahun 1930.

Interior yang digunakan pada gaya ini menggunakan bentuk yang lebih sederhana. Perabot furniture yang digunakan biasanya menimbulkan kesan formal. Bentuknya selalu memakai garis tegas, kotak atau segitiga dan tidak pernah menggunakan lekukan yang rumit. Untuk bagian kaki ukurannya pendek dan agak besar serta cenderung horizontal atau bundar.

Bahan yang sering digunakan adalah kayu yang dipadukan dengan logam besi atau kuningan. Sedangkan untuk dindingnya menggunakan warna abu-abu muda, kuning gading, krem, hijau atau coklat.

Gaya yang dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi yang pesat di negara-negara Eropa pada sekitar tahun 1950 dinamakan dengan gaya retro fifties. Pekembangan ekonomi tersebut juga membawa dampak pada pekembangan teknologi yang tidak kalah pesat. Hal ini mengakibatkan proses pembuatan karya seni tidak menggunakan sistem manual (hand made) lagi, namun menggunakan perangkat mesin.

Pada masa ini berbagai perubahan warna, garis desain dan bentuk terus mengalami perkembangan. Bahan yang digunakan juga makin modern. Sehingga banyak yang menyebutkan jika tahun 1950 ini disebut sebagai awal dari perkembangan desain kontemporer.

Penggunaan bahan modern seperti formika, fiber, busa karet, plastik dan vinil juga semakin sering diaplikasikan untuk pembuatan perabot furniture dan hiasan interior. Warna yang paling suka digunakan adalah oranye atau jingga, kuning, fuchsia atau merah keunguan, serta kuning yang diaplikasikan sebagai warna dinding, dan kain penutup untuk perabot furniture atau untuk funiturenya sendiri.

Setelah tahun 1950 ditinggalkan dan menuju tahun 1960, muncul gaya desain baru lagi yang dinamakan dengan pop art. Ketika itu desain interior yang populer selalu mengikuti desain yang berkembang di dunia fashion atau pakaian. Ciri utamanya adalah bentuk dan gayanya yang tajam serta unik. Selain itu jenis warna yang digunakan makin banyak. Era ini merupakan era yang punya tampilan paling beda dibanding dengan gaya retro yang lain.

Memasuki tahun 1970, gaya retro yang populer mulai mengalami perubahan kembali. Namun yang menjadikan gaya tahun ini jadi menarik adalah tidak ada pemunculan gaya yang baru. Penggemar desain interior justru menggunakan gaya art deco yang populer pada tahun 1930 sebagai batu pijakan untuk membuat gaya desain interior yang mereka inginkan.

Meski tingkat kerumitannya banyak berkurang, namun ciri yang menimbulkan nuansa gelap masik digunakan. Hanya saja selain menggunakan warna gelap, warna lain yang cenderung alami juga digunakan untuk memunculkan kesan hangat dan natural.

Pada masa kini, desain retro yang banyak digemari adalah desain yang menggunakan konsep yang berkembang pada tahun 1970an ini. Bahkan oleh sebagian orang, desain dan gaya ini merupakan embrio dari lahirnya desain yang memunculkan gaya modern dan minimalis. Karakter yang paling menonjol adalah bentuknya yang sederhana serta tampilan ruang yang lebih luas dan lapang.
Artikel Lainnya :