Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Penggunaan Payung Untuk Hiasan Interior dan Makna Filsafatnya

Penggunaan Payung Untuk Hiasan Interior dan Makna Filsafatnya
Fungsi utama dari payung adalah sebagai alat pelindung dari sinar matahari yang terik dan air hujan agar tidak mengenai tubuh. Namun di beberapa daerah di Indonesia, payung juga punya arti sebagai tanda pangkat jabatan atau simbol derajat sesorang di masyarakat.

Pada jaman dulu payung juga digunakan untuk melakukan berbagai macam ritual dan upacara tradisional. Bahkan hingga saat ini di Bali payung masih digunakan untuk menjalankan ibadah dan upacara adat yang dilakukan secara bersama-sama di pura atau tempat suci dan sakral yang lain.

Sementara untuk daerah Jawa, ketika ada orang yang meninggal dan mau dimakamkan juga menyertakan payung dengan tujuan agar orang yang meninggal tersebut bisa mendapat keteduhan ketika harus menjalani kehidupan di alam yang lain.

Seorang raja jika sedang berpergian atau keluar dari istana juga selalu menggunakan payung. Adapun tujuannya adalah selain untuk melindungi agar tidak terkena sinar matahari juga agar bayangan tubuh sang raja tidak muncul dan terlihat serta terinjak oleh pengiringnya, terutama pada bagian kepala. Karena raja adalah orang yang mendapat kehormatan paling tinggi.

Menginjak bayangan raja merupakan salah satu bentuk pelecehan sehingga harus diusahakan agar bayang-bayang tersebut tidak muncul. Bahkan karena punya kedudukan yang paling tinggi payung yang digunakan adalah jenis bayung warna emas dan serta dihiasi dengan renda atau rumbai-rumbai pada bagian bawahnya.

Begitu pentingnya payung bagi masyarakat tradisional, cara penyimpannya juga menggunakan teknik tersendiri. Di daerah Jawa dan Sunda payung diletakan di ruang tamu atau keluarga dengan cara dikuncupkan dan diberi tutup yang terbuat dari kain warna kuning atau putih. Payung ini diletakan di bagian tengah antara di antar dua benda lain berupa senjata tombak yang ditata secara berjejer dan berdiri menggunakan alat penyagga.

Payung ini berfungsi sebagai simbol pengayoman untuk keluarga atau penghuni rumah yang tinggal di tempat tersebut. Sehingga payung juga menjadi benda pusaka yang tidak setiap orang boleh membuka dan menggunakannya. Pada hari-hari tertentu payung ini juga diberi sesaji.

Sedangkan di Bali, payung lebih sering dipasang di teras depan rumah dengan cara dibuka atau dimegarkan. Letaknya berada di samping tengah kiri dan kanan pintu yang merupakan akses utama untuk masuk ke dalam rumah. Tidak jauh berbeda dengan yang ada di pulau Jawa, masyarakat Bali juga menganggap payung sebagai simbol untuk perlindungan agar semua penghuni rumah selalu mendapat ketentraman baik secara lahir dan batin.

Hanya saja cara pemasangannya ada perbedaan, karena di Bali payung selalu diletakan dengan cara dibuka atau dimegarkan. Dan yang lebih utama, payung tersebut diletakan dengan posisi agak miring. Sedangkan bentuknya selain hanya terdiri dari satu susun, ada yang menggunakan konsep tiga susun. Sementara di Jawa pada umumnya payung hanya terdiri dari satu susun saja.

Demikian pula warna yang digunakan, juga ada perbedaan. Untuk masyarakat Bali, payung lebih sering menggunakan warna yang cerah dan terang seperti merah atau kuning. Demikian pula dengan payung asal Sumatera yang juga lebih suka menggunakan warna kuning. Sedangkan di Jawa warna payung biasanya adalah coklat tua atau warna gelap yang lain.

Terlepas dari segala macam perbedaan yang ada serta makna filsafat yang terkandung, namun yang jelas pemasangan payung tersebut sama-sama mampu memunculkan kesan tersendiri terhadap ruang yang digunakan. Terutama sekali untuk ruang yang menggunakan konsep desain etnik dan tradisional. Sehingga payung juga bisa berfungsi untuk menambah nilai keindahan interior.
Artikel Lainnya :