Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Menjadikan Karya Arsitek Sebagai Simbol Wilayah

Menjadikan Karya Arsitek Sebagai Simbol Wilayah
Jika pergi ke suatu tempat, kadangkala kita menemukan suatu bangunan yang menjadi icon atau simbol bagi daerah tersebut. Misalnya jika pergi ke Jakarta, maka ingatan kita akan melayang pada bangunan monas. Kemudian jika ke Bali maka yang ada di memori atau benak adalah bangunan komplek Istana Tampak Siring.

Demikian pula jika ke luar negeri seperti Australia misalnya. Di negeri kangguru ini salah satu bangunan yang menjadi simbol adalah gedung opera yang berlokasi di Sydney. Perancis atau Paris juga tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan menara Eiffel dan seterusnya.

Seni arsitektur memang bisa memunculkan suatu icon yang punya pengaruh maupun peran untuk menciptakan suatu citra khusus pada wilayah tertentu. Sehingga bangunan yang dibuat akan menghasilkan makna yang spesial juga.

Jadi tidak mengherankan  jika mendapat kesempatan untuk membuat desain yang akan dijadikan sebagai simbol atau icon, bagi seorang arsitek akan memunculkan rasa kebanggan tersendiri. Misalnya harus membuat desain untuk bangunan mall yang besar, sehingga ketika bangunan tersebut sudah jadi ingatan orang akan tertuju pada bangunan mall tersebut meski di daerah itu terdapat beberapa bangunan mall yang lain.

Atau bisa juga seorang arsitek membuat desain untuk komplek perumahan. Karena bentuk desain rumah yang dibuat punya ciri khas atau keistimewaan tersendiri orang akan menyebut daerah tersebut sesuai dengan nama komplek hunian yang dibuat. Walapun sebenarnya pada wilayah tersebut juga terdapat komplek perumahan yang lain. Sehingga komplek perumahan ini juga akan menjadi penanda untuk lingkungan di daerah tersebut.

Keinginan terhadap keberadaan bangunan yang menjadi simbol ini ternyata bukan hanya menjadi dambaan para arsitektur saja, namun juga menjadi dambaan orang yang ingin membuat bangunan istimewa sehingga punya tampilan yang berbeda dibanding dengan bangunan lain di sekitarnya.

Hal ini tentu mendorong banyak arsitek untuk menciptakan desain-desain yang baru agar karya yang mereka buat bisa tampil istimewa dan beda. Namun sayangnya kadangkala dalam membuat desain tersebut mereka sering melupakan pola pikir atau budaya masyarakat yang ada di sekitar tempat tersebut.

Jadi meski telah berhasil menjadi simbol, namun konotasi yang muncul kadangkala adalah konotasi yang negatif. Contohnya adalah daerah tersebut merupakan wilayah pedesaan dimana penduduknya masih banyak yang suka menggunakan konsep tradisional ketika membangun sebuah rumah. Namun oleh arsitektur, bangunan yang dibuat di tempat itu menggunakan konsep bangunan modern yang bernuansakan metropolis. Sehingga bangunan ini menjadi ‘tidak akrab’ dengan lingkungan sekitarnya. Orang akan merasa asing jika melihat bangunan tersebut.

Jika ingin membuat bangunan yang bisa menjadi simbol dalam konotasi yang baik atau positif, maka sebaiknya desain yang dibuat harus bisa selaras dengan budaya yang ada. Bisa saja bangunan yang dibuat tetap menggunakan desain yang tradisional namun dengan tampilan yang lebih modern. Misalnya dalam hal pewarnaan dinding dengan warna yang berbeda atau menonjol, atau tampilan atapnya yang dibuat sedemikan rupa sehingga bisa terlihat lebih modern namun tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang ada.

Sehingga hasil desain ini tetap bisa tampil beda dan dapat menjadi simbol baru yang baik bagi daerah tersebut. Jika ada seseorang yang ingin menanyakan alamat orang lain, maka yang menjadi pertanda utama adalah bangunan rumah tersebut. Sebelah kirinya, kananya, depanya dan lain-lain.

Apalagi jika desain yang dibuat juga punya tingkatan yang lebih tinggi seperti hunian untuk rumah dinas walikota atau kantor balaikota. Maka nilai prestisiusnya juga akan makin naik.
Artikel Lainnya :