Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Desain Interior Gaya Shabby Chic

Desain Interior Gaya Shabby Chic
Ada sebuah gaya atau aliran desain interior yang dinamakan dengan shabby chic. Desain tersebut mulai berkembang di negara Inggris sekitar tahun 1980 dan berkembang di Amerika pada tahun 1990. Jadi usianya memang belum terlalu lama.

Meski demikian konsep pamakaian perabotnya justru lebih mengutamakan perabot atau furniture yang usianya sudah tua dan antik. Inilah yang jadi salah satu keistimewaan dari desain interior gaya shabby chic tersebut. Namun meski menggunakan perabot tua atau antik, tidak sembarang perabot tersebut bisa digunakan untuk menciptakan gaya ini.

Desain ini lebih mengutamakan tampilan yang mampu menghadirkan kesan suasana pada jaman sekitar abad sembilan belas. Jika pada umumnya di Indonesia perabot tua dan antik lebih sering menggunakan warna coklat atau warna lain yang menimbulkan kesan lebih gelap, namun untuk desain shabby chick yang terjadi justru kebalikannya.

Meski warna coklat atau gelap tetap bisa diaplikasikan, namun penggunaan warna yang sifatnya lebih lembut lebih diutamakan dan ditonjolkan. Misalnya pink atau abu-abu pucat, putih, krem atau ivory, hijau atau biru lembut dan sebagainya. Semua jenis warna ini dipadukan pada aneka jenis dekorasi yang dipasang atau dimasukan dalam ruang seperti meja kursi, lampu hias maupun lampu gantung, wadah lilin, vas bunga dan lain-lain.

Sedang bahan yang digunakan bisa bermacam-macam juga. Mulai dari rotan, kayu, logam atau paduan dan kombinasi dari semua bahan tersebut. Selain memakai perabot yang diberi hiasan berbentuk ukiran, ada ornament lain yang juga dijadikan sebagai media untuk mempercantik dan membuat daya tarik ruang semakin tinggi. Misalnya motif bunga atau renda yang diaplikasikan pada kain penutup kursi, meja atau taplak maupun kain korden dan sebagainya. Kain penutup tersebut pada umumnya dipilih dari bahan linen atau katun.

Hiasan yang diletakan pada dinding seperti lukisan misalnya, juga menggunakan gambar yang bernuansa abad sembilan belas. Jika lukisan tersebut berupa seorang tokoh, maka tokoh tersebut akan mengenakan gaya pakaian yang juga populer dijaman itu. Demikian pula dengan tata rias wajah dan rambutnya.

Dan sesuai dengan nama yang diberikan yaitu shabby yang mengandung arti lusuh, maka hampir semua jenis perabot ini dipilih yang benar-benar tua dan lusuh. Meski demikian karena memakai konsep penataan yang baik dan sempurna, desain ini tetap bisa menghadirkan kesan yang mewah serta elegan tapi tetap lembut dan punya aroma yang romantis.

Tidak jarang karena merasa kesulitan menemukan jenis furniture yang berasal pada era abad ke sembilan belas, orang akan membuat furniture baru tapi modelnya disesuaikan. Kemudian untuk warnanya juga menggunakan teknik tertentu sehingga hasilnya bisa menghadirkan nuansa yang lusuh namun punya nilai seni dan daya tarik tinggi.

Bagian dinding juga tidak luput dari perhatian. Tidak jauh beda dengan elemen lain yang berada dalam ruang, dinding ini juga diberi cat atau warna yang selaras. Jenis warna yang paling sering diaplikasikan sekaligus paling cocok digunakan adalah krem, putih, pink, abu-abu muda maupun warna pastel lain yang sifatnya lebih terang.

Hal yang sama juga diberlakukan pada lantai. Namun khusus untuk lantai ini bukan merupakan sesuatu yang sifatnya mutlak. Sebab ruang bergaya desain shabby chic juga bisa terlihat menarik meski menggunakan warna yang sifatnya cenderung gelap. Bahkan ada lantai yang merupakan lantai kayu.

Bagian lainnya yaitu plafon, kondisinya tidak begitu berbeda. Warna yang digunakan biasanya mengikuti warna dinding. Hanya saja plafon ini dibiarkan polos tidak diberi ornament dan hiasan seperti profil dan sebagainya. Jikapun diberi tampilannya tidak dibuat terlalu menonjol.

Sumber gambar : http://www.traditionalhome.com
Artikel Lainnya :