Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Tips Membeli Tanah dan Rumah Warisan

Tips Membeli Tanah dan Rumah Warisan
Tanah atau rumah warisan merupakan bangunan yang sering menimbulkan masalah hokum atau konflik maupun bentuk sengketa lainnya. Namun bukan berarti kita tidak boleh membeli rumah seperti ini. yang terpenting adalah harus mengetahui tekniknya.

Berikut ini ada beberapa tips membeli tanah dan rumah warisan yang dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan referensi. Menurut blog alumni Undip, hal pertama yang perlu dipastikan yaitu adanya surat dan dokumen lain yang lengkap. Contohnya surat SPPT atau Surat Pemberitahuan Pajak Terutang serta bukti lain yang menyatakan jika kepemilikan tanah dan bangunan tersebut adalah sah. Bukti tersebut misalnya sertifikat tanah, surat wasiat atau hibah, akta jual beli, girik dan leter C serta yang lainnya.

Selain itu pastikan juga keberadaan bangunan dan tanah itu dengan cara melakukan pengecekan secara langsung. Carilah info yang berhubungan dengan status lahan tersebut kepada orang yang tinggal di sekitarnya. Lebih bagus lagi pada orang tua yang lebih tahu dan memahami kisah masa lalu terhadap tanah dan bangunan yang mau dibeli. Dari sini kita bisa mengetahui apakah tanah ini masih dalam sengketa, dijadikan jaminan bank, digadaikan, disewakan dan sebagainya.

Setelah itu cari informasi tentang siapa saja yang punya hak terhadap tanah dan rumah itu. Sebab yang namanya tanah warisan itu kemungkinan besar tidak hanya dikuasai atau dimiliki oleh satu pihak saja namun ada beberapa orang yang punya hak sama. Jadi kenali identitas mereka semua satu persatu.

Kemudian usahakan agar ketika proses transaksi pembelian dilakukan jangan ada satu pihakpun yang mewakilkan pada orang lain. Jadi mereka harus datang dan menandatangani surat atau akta jual beli tanah secara langsung. Kita perlu ekstra hati-hati pada urusan ini karena banyak terjadi kasus pemalsuan tanda tangan. Jangan sampai masalah ini bisa menimbulkan urusan hukum di kemudian hari. Jadi semua ahli waris harus hadir di kantor Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Jangan pernah punya pikiran, yang terpenting Akta tersebut bisa jadi secepatnya. Apalagi jika di saat acara pemberian tanda tangan tersebut adasalah satu pihak keluarga yang tidak dapat hadir. Tunggu beberapa saat hingga semua sudah berkumpul. Jika ternyata memang tidak hadir lebih baik acara penandatanganan ini ditunda saja.

Kemudian saat pembayaran dilakukan, pastikan semua ahli waris atau yang punya hak terhadap tanah tersebut mendapat pembagian dari hasil penjualan. Penerimaan pembayaran ini sebaiknya juga dilengkapi dengan kuitansi yang diberi materai atau segel. Selain itu agar proses ini bisa sah di mata hukum, hadirkan pula satu atau dua orang saksi maupun pejabat dari wilayah setempat.

Jika dirasa perlu, buat pula dokumentasi atau foto maupun film semua kegiatatn transaksi jual beli ini. Mulai dari pembutuhan tanda tangan pada akta, lalu ketika uang pembayaran diserahkan dan sebagainya. Jika suatu saat muncul masalah, dokumen ini dapat dijadikan sebagai alat bukti jika semua ahli waris sudah menyetujui penjualan tanah dan rumah mereka dan sudah menerima uang pembayaran.

Hal lain yang perlu diingat, transaksi pembelian ini jangan sekali-kali dilakukan melalui seorang perantara. Usahakan untuk bertemu secara langsung dengan pemilik dan semua ahli waris. Untuk perantara hanya berfungsi sebagai penghubung saja. Namun untuk semua proses transaksi harus dilakukan sendiri.

Setelah semua proses ini bisa dilewati dengan baik, maka langkah berikutnya yaitu mendaftarkan tanah yang sudah menjadi milik kita di Kantor Pertanahan, paling lambat tujuh hari setelah akta tersebut ditanda tangani bersama. Kemudian buatlah batas-batas secara jelas lahan yang dimiliki menggunakan patok, pagar atau yang lainnya.

Sumber gambar : http://www.tripadvisor.com

 

Artikel Lainnya :