Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Tujuan dan Jenis Plester Dinding

Tujuan dan Jenis Plester Dinding
Kecuali jenis ekpose, pada umumnya permukaan dinding selalu ditutup dengan plester. Tujuan dari pemlesteran ini adalah agar dinding bisa terlihat lebih rapi bersih serta tidak menimbulkan kesan yang berantakan. Dinding dari batu bata yang warnanya merah kecoklatan kadangkala bisa memunculkan kesan yang agak gelap. Jika ditutup dengan plester lalu diberi lapisan cat atau wall paper, maka kesan gelap tersebut menjadi hilang.

Selain itu plester juga bisa melindungi dinding dari sinar matahari atau air hujan terutama yang berada di luar ruang atau eksterior. Sehingga kualitasnya bisa lebih awet dan tahan lama. Plester juga mampu menghilangkan resiko penempelan debu atau kotoran lain yang apabila menempel secara langsung pada dinding akan lebih sulit dibersihkan dan dihilangkan.

Fungsi yang lain, plester mampu mengurangi resiko terjadinya kerusakan atau retak pada dinding dan menutup cacat maupun kekurangan pada susunan batu bata yang mungkin saja kurang begitu sempurna jika dilihat. Terakhir, plester akan membuat proses pengecatan atau finishing jadi lebih mudah dilakukan.

Sebenarnya jenis plester dinding ini namun yang paling dikenal oleh masyarakat umum adalah yang terbuat dari adonan semen dan pasir. Campuran bahan ini ada yang menamakannya dengan sebutan mortar semen. Komposisi campuran ini disesuaikan dengan kualitas kekuatan yang ingin dihasilkan. Tapi pada umumnya memakai perbandingan tiga pasir satu semen atau empat pasir satu semen.

Cara membuat adonan ini sangat mudah, tinggal diaduk hingga merata dan menyatu kemudian diberi air hingga membentuk seperti pasta. Tapi pemakaian air ini harus pas agar tidak terlalu banyak atau encer serta sebaliknya terlalu kurang atau sedikit. Keduanya dapat membuat proses penempelan pada dinding sulit dilakukan.

Selain itu, dua kondisi ini juga bisa menimbulkan efek kualitas plester menjadi tidak bagus dan mudah terlepas dari susunan batu bata. Dan yang tidak kalah penting yaitu, setelah adonan pasir dan semen serta air ini dibuat harus segera dipakai, tidak boleh ditunda terlalu lama. Maksimal waktunya adalah sekitar setengah jam. Sebab sesudah melewati batas waktu tersebut adonan bisa mengering atau menjadi keras. Hal ini juga membuat kualitas plester jadi berkurang.

Selain plester mortar semen sebenarnya masih ada plester lain dari kapur atau sering dinamakan dengan sebuat mortar kapur. Bahan yang digunakan juga pasir namun campurannya tidak berupa semen melainkan kapur yang sudah dihaluskan. Sistem ini selama ini memang jarang diaplikasi. Tapi pada daerah tertentu yang jumlah produksi kapur atau merupakan wilayah berkapur, sistem ini justru lebih sering diterapkan. Tujuannya yaitu tentu saja untuk menghemat dana pengeluaran karena kapur tersebut bisa dibuat sendiri.

Jika ingin menerapkan sistem ini, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah kapur tersebut sebaiknya diolah dengan baik agar bentuk dan ukuran butirannya bisa sama semua. Selain itu butiran ini tidak perlu dibuat hingga menjadi halus seperti semen namun cukup seperti pasir yang sudah disaring. Adapun perbandingan terbaiknya adalah satu pasir satu kapur.

Selanjutnya ada lagi plester dinding yang terbuat dari tanah liat. Pada saat ini penggunaan sistem ini sangat jarang dilakukan. Namun pada jaman dulu ketika teknologi pembuatan semen belum ditemukan, konsep ini sering diaplikasikan. Sedang proses pengerjaannya hampir sama dengan cara membuat batu bata biasa. Di daerah tertentu ada yang suka mencampur tanah liat ini dengan kotoran sapi atau jerami.

Cara membuatnya, tanah liat dicampur jerami atau kotoran sapi lalu dibiarkan di tempat terbuka sekitar satu minggu. Dalam kurun waktu tersebut tiap hari adonan ini disiram menggunakan air. setelah kenyal dan padat, bahan ini kemudian ditempelkan pada dinding seperti biasa kemudian ditunggu hingga mengering.

Sumber gambar : http://www.bobvila.com

 

Artikel Lainnya :