Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Jenis Tanki Air dan Cara Memilihnya

Jenis Tanki Air dan Cara Memilihnya
Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terutama yang berhubungan dengan penggunaan air, setiap rumah sebaiknya dilengkapi dengan tanki penyimpanan air. Tujuaannya adalah ketika listrik yang dipakai untuk menghidupkan mesin penyedot air mati, masih punya persediaan yang cukup untuk mandi dan berbagai macam keperluan lainnya.

Tanki air tersebut terdiri dari beberapa jenis sesuai dengan bahannya dan masing-masing punya kelebihan maupun kelemahan yang berbeda-beda. Jenis tanki air tersebut antara lain yaitu tanki plastik yang dibuat dari bahan polietilen.

Tanki jenis ini punya bobot yang ringan sehingga tidak membutuhkan pondasi dan konstruksi yang kuat untuk meletakannya. Umur pemakaiannya berkisar antara limabelas hingga duapuluh lima tahun dan harganya lebih murah dibanding dengan jenis tanki yang lain.

Kelemahannya adalah, jika ada bagian yang bocor, posisi lubang bocor tersebut sulit ditemukan dan baru bisa ketahuan setelah diisi dengan air secara penuh. Biasanya bocor ini sering terjadi di bagian sambungan yang vertikal. Selain itu bahan yang dipakai untuk membuat tanki ini mudah terbakar dan meleleh sehingga harus ditempatkan pada lokasi yang khusus dan teduh.

Sedangkan tanki yang terbuat dari logam terbagi lagi menjadi tiga macam yaitu dari galvanis dan zincalume serta stainless. Untuk galvanis, memakai baja atau besi. Tapi ada pula yang memakai bahan seng. Pemakaian seng ini bertujuan untuk memperlambat terjadinya proses korosi. Meski harganya lebih murah, namun umur penggunaannya sangat singkat, sekitar lima tahun saja.

Tanki air dari zincalume menggunakan bahan campuran yang terdiri dari seng sebanyak 43,5 %, lalu alumunium sebanyak 55% dan sisanya yang 1,5% adalah silikon. Umur penggunaannya bisa lama yaitu sekitar sepuluh hingga limabelas tahun.

Untuk stainless sistem pembuatannya menggunakan lapisan konversi yang dilekatkan pada baja dengan tujuan untuk meninggikan tingkat adhesinya. Setelah itu diberi bahan lain dari polietilen atau polyester dan top coat. Penyatuann semua bahan ini dilakukan dengan cara dioven. Apabila dibanding dengan tanki lainnya, umur penggunaannya paling lama yaitu duapuluh tahun.

Jenis tanki yang ketika adalah tanki air dari beton. Biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat tanki ini cukup besar karena masing-masing konstruksi, pondasi dan bak penyimpanan air semua dibuat sendiri. Jika ingin mengaplikasikan sistem ini sebaiknya dibuat secara terpisah dan diberi jarak dengan bangunan rumah agar tidak menimbulkan kelembaban.

Masalah lain yang perlu diingat, beton punya pori-pori, jadi kemungkinan terjadinya rembesan dan bocor lebih tinggi. Untuk menghindari masalah ini sebaiknya bak yang dipakai menyimpan air diberi lapisan penutup dari keramik atau bahan lain yang sejenis. Caranya tidak jauh berbeda dengan sistem pembuatan bak mandi.

Tanki beton ini punya daya tahan yang paling kuat jika sistem pembuatannya dilakukan dengan cara yang benar. Meski begitu, masih ada satu kelemahan lain yaitu lumut mudah tumbuh di bak sehingga harus lebih sering dibersihkan.

Terakhir adalah tanki fiberglass yang umur pemakaiannya juga termasuk lama serta tidak dapat terkena korosi. Namun sayangnya bahan ini bisa tertembus oleh sinar matahari dan hal ini dapat membuat tanaman jenis ganggang bisa tumbuh dalam tanki. Cara paling mudah untuk mengatasi masalah adalah sebelum dipasang, tanki diberi lapisan cat lebih dahulu. Jadi intensitas cahaya amtahari yang masuk bisa diminimalkan.

Kelemahan lainnya, tanki ini mudah rapuh dan kerapuhan tersebut bisa menyebabkan air dalam bak jadi mudah kotor. Apalagi jika tanki ini diletakan pada tempat yang mudah terkena pancaran sinar matahari yang kuat dan panas. Jadi sebaiknya diletakan pada tempat yang lebih terlindung. Agar bisa lebih awet dan tahan lama. Adapun kontruksinya bisa dibuat dari beton atau besi.

Sumber gambar : http://earthsci.org

 

Artikel Lainnya :