Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Jenis Skema Pewarnaan Pada Dinding Interior

Jenis Skema Pewarnaan Pada Dinding Interior
Selain bisa membuat tampilan terlihat lebih menarik dan indah, warna cat pada dinding juga bisa menimbulkan kesan yang berbeda-beda tergantung jenis warna yang digunakan. Selain itu warna juga dapat memberi efek pada suasana hati penghuni rumah atau orang lain yang sedang berada di tempat tersebut.

Adakalanya karena merasa bosan dan jenuh, muncul keinginan untuk merubah warna di dinding dengan tampilan yang lebih baru sekaligus menarik. Terlebih jika mengingat bahwa melakukan perubahan warna adalah metode yang paling murah dan hemat untuk mengubah konsep tampilan ruang. Karena itu dapat dikatakan bahwa warna merupakan element paling penting bagi proses penciptaan dan penataan ruang yang paling sempurna dan mudah dilakukan.

Namun pada sisi yang lain, jika pemilihan warna untuk dinding tidak tepat suasana yang muncul dalam ruang justru bisa jadi kurang bagus serta membuat suasana ruang tampak tidak nyaman lagi. Agar masalah ini tidak muncul, kita harus mengetahui konsep keseimbangan maupun skema warna yang selama ini dikenal dengan sebutan roda warna.

Skema perwarnaan pada dinding interior serta bagian lain dari bangunan secara garis besar bisa dibagi menjadi tiga yaitu komplemen, analog dan monokromatis. Penggunaan skema warna atau roda warna ini akan memudahkan kita untuk menentukan jenis warna atau cat yang ingin diaplikasikan pada dinding ruang dan interior.

Untuk skema komplemen, pada umumnya sering memunculkan suasana yang menyenangkan dan penuh dengan kegembiaraan. Bila ingin tampilan ruang yang agak berbeda dan istimewa, dapat menerapkan skema ini dalam skala atau dosis yang besar. Namun jika kurang mengetahui sistem ini sebaiknya lakukan konsultasi lebih dulu pada ahlinya karena skema komplemen ini tidak cuma menggunakan satu atau dua jenis warna saja dalam sebuah ruang namun memadukan beberapa warna sekaligus.

Sedangkan skema analog pada umumnya hanya mengaplikasikan dua atau maksimal tiga jenis warna saja dalam satu ruang. Tiga atau dua macam warna ini akan dibagi jadi satu warna utama atau warna dominan dan primer, sedangkan dua jenis warna yang lain menjadi warna tambahan dan skunder. Penggunaan paduan dua dan tiga warna ini juga tidak boleh sembarangan sehingga tetap memunculkan kesan yang selaras, meski memakai warna-warna yang kontras atau saling bertabrakan.

Kemudian untuk skema monokromatis, sesuai dengan penyebutan namanya hanya menggunakan satu jenis warna saja atau sering disebut dengan warna tunggal. Skema ini adalah konsep yang paling mudah diaplikasikan dan sering menghasilkan kesan yang menyatu, harmonis dan damai.

Namun jika terasa membosankan atau jenuh, warna dinding yang hanya terdiri dari satu jenis ini bisa dikombinasi dengan warna lain namun tidak diaplikasikan pada dinding. Misalnya memakai karpet ukuran besar dengan warna yang berbeda kemudian diletakan di lantai. Konsep ini juga bisa diaplikasikan pada media dan element yang lain seperti kain korden, kain penutup meja dan sebagainya.

Bagi yang belum mengetahui sifat-sifat warna atau kesan yang dimunculkan, berikut ini terdapat beberapa contoh. Misalnya warna gelap bisa menjadikan ruang terasa lebih kecil. Jadi warna ini tidak boleh diaplikasikan pada dinding ruang yang ukurannya tidak terlalu besar karena dapat memunculkan kesan yang pengap.

Jika digunakan untuk memberi warna pada langit-langit atau plafon, tampilan plafon bisa terlihat lebih rendah dari ukuran yang sebenarnya. Jadi untuk memuncukan kesan yang lebih besar, luas dan tinggi, gunakan jenis warna yang terang.

Tampilan ruang yang terlihat lebih kecil juga bisa muncul dari penggunaan warna yang sifatnya kontras. Namun sebaliknya untuk paduan warna yang senada bisa menjadikan ruang terasa lebih longgar dan lapang.

Sumber gambar : http://myremodelinghomes.com
Artikel Lainnya :