Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor
Artikel dan Tips - Image Bali Arsitek & Kontraktor

Faktor Penentu Kualitas Beton

Faktor Penentu Kualitas Beton
Ketika membuat dan mendirikan bangunan, tentu semua orang ingin mendapat hasil yang baik dan kuat serta bisa tahan lama. Salah satu komponen dan element yang jadi sumber penentu atas baik dan tidaknya kualitas dan kekuatan bangunan adalah pada bagian betonnya.

Kualias beton ini sendiri juga dipengaruhi oleh banyak hal. Beberapa faktor penentu kualitas beton tersebut antara lain adalah faktor air semen atau FAS. Makin besar rendah nilai FAS maka kualitas beton tersebut akan semakin bagus dan kuat.

Ukuran paling rendah atau minimum FAS beton yaitu 0,4 dan maksimal 0,65. FAS yang rendah akan membuat porositas beton dapat menghasilkan kualitas beton yang makin baik. FAS ini sendiri adalah terjemahan dari water to comentious yaitu satuan berat air pada berat atau bobot total semen dan adiktif semen yang lain yang digunakan sebagai campuran.

Faktor kedua adalah pasir atau agregrat halus. Agar bisa mendapat beton yang baik, pasir yang digunakan bentuknya harus bulat dan punya rongga atau lubang udara lebih kecil minimal 33% dari lubang udara yang dimiliki agregrat yang sudah terbentuk dan teksturnya juga halus

Tekstur yang halus akan memberi efek pada penggunaan air yang tidak begitu banyak. Dan jika pemakaian air bisa ditekan, maka seperti yang telah dijelaskan di atas beton yang dihasilkan akan lebih bagus kualitasnnya.

Sedangkan faktor ketiga adalah agregrat kasarnya. Agregrat kasar ini harus mempunyai ukuran yang sama atau seragam. Yang dimaksud dengan ukuran di sini bukan diameternya saja namun juga mutu kualitas dan lainnya. Tidak berbeda dengan agregrat halus, agregrat kasar yang bisa seragam juga dapat mengakibatkan penggunaan air bisa diminimalkan.

Untuk mendapatkan beton bermutu prima, ukuran diameter agregat kasar ini maksimal adalah 15 millimeter dan lubang udaranya sekitar 38% hingga 40% sehingga bisa menghasilkan ikatan agregrat kasar dan halus yang lebih kuat. Selain itu agregrat ini juga harus bersih dari kandungan atau bahan lain terutama yang bersifat bisa merusak beton.

Lalu faktor yang keempat adalah bahan tambahan lainnya. Jenis bahan tambahan ini terdiri dari dua jenis yaitu yang punya sifat kimiawi atau chemical admixture dan yang punya sifat mineral atau addiktif. Untuk jenis kimawi pada umumnya ditambahkan ketika proses pengadukan sedang dilakukan maupun saat pengecoran atau plecing sedang dikerjakan prosesnya.

Sedang bahan tambahan mineral, lebih sering dilakukan pada proses pengadukan saja. Adapun tujuannya adalah untuk memperbaiki sistem kekuatan beton. Oleh karena itu bahan yang dipakai lebih sering berupa bahan untuk penyemenan.

Sistem pengerjaan beton seperti ini saat ini sudah merupakan hal yang umum dilakukan. Bahan yang paling populer digunakan adalah abu terbang. Abu jenis ini adalah residu atau sisa dari batu bara jenis bitumen dan antrasit yang dipakai untuk menggerakan mesin pembangkit listrik yang menggunakan tenaga uap dalam sistem pengoperasiannya.

Sedangkan faktor kelima yaitu proses kualitas kontrol pada proses pembuatan beton itu sendiri sekaligus sistem perawatannya. Jika proses pekerjaan kualitas kontrol dan pengendaliannya bisa dilakukan sesuai dengan standar yang telah ditentukan, tentu bisa dihasilkan beton bermutu baik. Demikian pulan dengan perawatannya, harus dilakukan secara kontinyu dan terus menerus.

Faktor lain yang juga ikut berpengaruh terhadap kualitas beton adalah kondisi alam dan cuaca. Perubahan yang sangat ekstrim bisa menyebabkan kualitas beton jadi menurun. Namun apabila proses pengerjaannya bisa dilakukan dengan sempurna, meski terjadi penurunan kualitas tentu skala penurunannya tidak terlalu besar. Kecuali jika terjadi bencana yang termasuk golongan di luar jangkauan manusia seperti gempa atau banjir. Meski beton itu diklaim sebagai beton tahan gempa, tetap saja kualitasnya tidak sekuat jika tidak ada bencana gempa.

Sumber gambar : http://www.deconcrete.org

 

Artikel Lainnya :